Indonesiaku.co – Suara dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Provinsi Gorontalo hingga kini belum diketahui sumbernya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan analisis terhadap data sensor dan laporan masyarakat, tetapi belum menemukan kesimpulan mengenai penyebab fenomena tersebut.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo Andri Wijaya Bidang mengatakan, laporan masyarakat mengenai dentuman diterima BMKG sekitar pukul 00.18 WITA. Pada waktu yang berdekatan, sensor BMKG mendeteksi adanya gelombang seismik yang berlangsung sekitar pukul 00.15 WITA hingga 00.20 WITA.
Gelombang tersebut menandakan adanya getaran yang terekam oleh alat pemantau. Namun, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gelombang itu bukan berasal dari gempa bumi tektonik maupun vulkanik.
“Kami memang di jam 00.18 WITA menerima laporan masyarakat terkait adanya suara dentuman keras, dan memang sekitar pukul 00.15 WITA sampai dengan 00.20 WITA, pada alat sensor kami terpantau adanya gelombang seismik yang ditemukan atau dideteksi sehingga memicu adanya getaran di jam tersebut,” kata Andri di Gorontalo, Sabtu.
BMKG menegaskan, keberadaan gelombang seismik tidak otomatis berarti telah terjadi gempa bumi. Gelombang tersebut perlu dianalisis berdasarkan karakteristik, pola, dan sumbernya. Dalam kasus dentuman di Gorontalo, data yang terekam tidak menunjukkan ciri aktivitas tektonik maupun vulkanik.
Selain memeriksa data seismik, BMKG juga menerima sejumlah informasi dari masyarakat. Salah satunya berupa rekaman CCTV yang memperlihatkan kilatan cahaya terang di sekitar waktu kejadian.
Andri menyebutkan, rekaman tersebut dapat dibenarkan sebagai data pendukung karena memiliki keterangan waktu. Dalam video, terlihat cahaya terang yang kemudian tampak berkedip atau kelap-kelip sebelum meredup. Meski demikian, rekaman itu belum cukup untuk memastikan sumber dentuman.
Kilatan cahaya tersebut memunculkan dugaan bahwa fenomena itu berkaitan dengan meteor. Akan tetapi, BMKG belum memiliki bukti yang dapat memperkuat dugaan tersebut.
Menurut Andri, kesimpulan mengenai meteor jatuh harus didukung data visual maupun material. Data visual diperlukan untuk melihat karakteristik benda yang melintas atau jatuh, sedangkan data material dibutuhkan apabila terdapat benda yang ditemukan di permukaan tanah.
“Sementara pada unggahan CCTV kiriman masyarakat, data tersebut dapat dibenarkan sebab dilengkapi informasi jam dan waktu kejadian. Namun, yang kami terima hanyalah terlihat seperti cahaya terang atau kilatan cahaya yang cukup terang kemudian tampak kelap-kelip sampai meredup,” katanya.
Ia menambahkan, BMKG belum menerima informasi mengenai adanya material benda yang jatuh di wilayah Gorontalo. Karena itu, dugaan meteor masih sebatas kemungkinan yang belum dapat dipastikan.
“Sementara ini tidak ada data terkait itu maupun analisis yang dilakukan menyangkut peristiwa suara dentuman keras tersebut berasal dari meteor jatuh,” ujar Andri.
Informasi mengenai lokasi sumber dentuman juga masih beragam. Sebagian laporan masyarakat menyebut wilayah Gorontalo Utara, sementara laporan lainnya mengarah ke Bone Bolango dan Dulamayo di Kabupaten Gorontalo.
Perbedaan informasi tersebut membuat BMKG masih membutuhkan data tambahan untuk mempersempit lokasi sumber suara. Koordinasi dengan pihak terkait, termasuk TNI Angkatan Udara, terus dilakukan untuk membantu proses penyelidikan.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengaitkan dentuman dengan gempa, letusan gunung api, atau meteor sebelum terdapat hasil analisis resmi. Informasi yang beredar perlu diperiksa terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kekhawatiran maupun kesimpulan yang keliru.***