Pangalengan Berdekatan dengan Sesar Garsela, Ahli Jelaskan Kondisi Gempa Swarm

Indonesiaku.co – Aktivitas gempa swarm terjadi di Pangalengan dan sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak Rabu (16/9). Puluhan gempa tercatat oleh BMKG dan beberapa di antaranya dirasakan masyarakat.

Kawasan Pangalengan memiliki kondisi geologi yang perlu diperhatikan dalam memahami aktivitas gempa tersebut. Akademisi Ahli dari Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan Pangalengan berada di wilayah Jawa Barat bagian selatan dengan kondisi deformasi kerak bumi yang kompleks.

Wilayah tersebut juga berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan. Sesar Garsela merupakan salah satu struktur sesar aktif yang memiliki aktivitas seismik di Jawa Barat.

Menurut Daryono, konteks geologi tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan dalam membaca aktivitas gempa di kawasan Pangalengan. Namun, kemunculan gempa swarm tidak dapat langsung diartikan sebagai pertanda akan terjadi gempa bumi berkekuatan besar.

Baca Juga:  Pengaruh Siklon Tropis Bavi Masih Terasa, BMKG Minta Warga Waspadai Potensi Hujan Lebat

Ia menjelaskan earthquake swarm merupakan rangkaian gempa yang terjadi berulang kali dalam suatu kawasan dan periode tertentu tanpa adanya satu gempa utama atau mainshock yang secara jelas mendominasi rangkaian.

Kemunculan swarm menunjukkan adanya aktivitas deformasi serta pelepasan tegangan di kerak bumi. Akan tetapi, penyebab fenomena tersebut dapat beragam.

Daryono menyebut aktivitas swarm dapat berkaitan dengan pergeseran sesar, aktivitas vulkanik, maupun aktivitas hidrotermal. Karena itu, perkembangan aktivitas tersebut harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus.

“Pola swarm harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus, bukan berdasarkan jumlah gempa semata,” ujarnya.

Data BMKG menunjukkan aktivitas gempa masih berlangsung hingga Kamis pagi. Salah satu gempa yang tercatat terjadi pada pukul 04.59 WIB dengan magnitudo 2,6.

Baca Juga:  Basarnas Kerahkan Tim SAR Gabungan Cari Korban KM Nurul Salsa yang Karam di Selayar

Gempa tersebut berlokasi di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman tiga kilometer. Daryono menjelaskan bahwa gempa dengan sumber relatif dangkal dapat menghasilkan guncangan yang terasa cukup kuat meskipun magnitudonya kecil.

Kondisi geologi setempat juga dapat memengaruhi tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat. Karena itu, respons masyarakat terhadap guncangan tidak selalu dapat diperkirakan hanya berdasarkan angka magnitudo.

Daryono menegaskan bahwa aktivitas swarm tidak selalu berkembang menjadi gempa yang semakin besar. Sebagian rangkaian swarm dapat berkurang dan mereda secara bertahap.

Masyarakat pun diimbau tidak panik menghadapi aktivitas gempa tersebut. Meski demikian, kesiapsiagaan tetap perlu diperkuat.

Langkah yang dapat dilakukan antara lain memastikan kondisi bangunan, mengamankan perabot yang mudah jatuh, dan memahami prosedur drop, cover, and hold on ketika guncangan terjadi.

Baca Juga:  Gempa Jawa Timur Terasa di Malang dan Jember, BMKG Sebut Tak Ada Potensi Tsunami

Masyarakat di sekitar Pangalengan juga perlu memperhatikan potensi bahaya sekunder seperti longsor. Informasi mengenai aktivitas gempa dan perkembangannya sebaiknya terus dipantau melalui informasi resmi BMKG.

Daryono mengingatkan agar masyarakat tidak mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Menurutnya, pemantauan data seismologi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal penting selama aktivitas tersebut berlangsung.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *