Tes Gigi hingga Buta Warna Jadi Bagian Seleksi Kesehatan 1.845 Calon Taruna Poltek Imipas

Indonesiaku.co – Ribuan calon taruna dan taruni Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan (Poltek Imipas) mengikuti tahapan seleksi kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara Brimob, Depok, Jawa Barat. Sebanyak 1.845 peserta dinyatakan berhak mengikuti tahap tersebut setelah melewati seleksi kompetensi dasar (SKD).

Pemeriksaan kesehatan berlangsung selama tiga hari, mulai 14 hingga 16 Oktober 2026. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian penerimaan calon taruna dan taruni sekolah kedinasan di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Muhammad Tito Andrianto, menjelaskan bahwa peserta menjalani beberapa jenis pemeriksaan. Tes yang dilakukan meliputi pemeriksaan gigi, mata, urine, dan varises.

Hasil seleksi kesehatan dijadwalkan diumumkan pada 17 Oktober 2026. Peserta yang melanjutkan proses penerimaan kemudian dijadwalkan mengikuti seleksi fisik pada 19–21 Oktober 2026.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Bertolak ke Kalimantan, Pimpin Langsung Penanganan Karhutla

Ombudsman ikut mengawasi pemeriksaan

Pelaksanaan seleksi kesehatan tersebut turut dipantau oleh Ombudsman Republik Indonesia. Ketua Ombudsman RI, Nuzran Joher, melakukan peninjauan langsung untuk memastikan proses seleksi berlangsung transparan dan pelayanan terhadap peserta berjalan dengan baik.

Dalam kunjungan di RS Bhayangkara Brimob, Nuzran tidak hanya mengamati jalannya pemeriksaan, tetapi juga memeriksa kesiapan sarana, prasarana, dan fasilitas rumah sakit. Menurutnya, kelengkapan fasilitas diperlukan agar seluruh peserta mendapatkan pelayanan yang layak.

Pemantauan tersebut merupakan bagian dari kerja sama pengawasan pelayanan publik antara Ombudsman dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Peninjauan juga mencakup proses seleksi sebelumnya, termasuk pemeriksaan administrasi dan pelaksanaan SKD yang hasilnya telah diumumkan.

Baca Juga:  Temuan 995 Senjata di Sekolah Swasta Jadi Sorotan, Pemprov DKI Dukung Penindakan Tegas

Salah satu hal yang menjadi perhatian Ombudsman adalah pemeriksaan kesehatan mata, terutama tes buta warna. Nuzran meminta agar hasil pemeriksaan dihimpun sebagai data untuk memetakan kondisi kesehatan mata generasi muda.

Ia menilai informasi mengenai jumlah peserta yang mengalami buta warna beserta faktor penyebabnya dapat digunakan sebagai bahan kajian lebih luas. Pemetaan tersebut juga dinilai berpotensi diterapkan pada seleksi sekolah kedinasan lainnya, seperti IPDN dan sekolah kedinasan di bidang transportasi.

Persaingan menuju kuota sekitar 400 peserta

Setelah melewati seleksi kesehatan dan tahapan fisik, peserta masih harus mengikuti proses penyaringan berikutnya. Jumlah calon taruna dan taruni yang akhirnya diterima akan jauh lebih sedikit dibandingkan peserta yang mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Baca Juga:  Gangguan Listrik Jakarta Pulih dalam Dua Jam, PLN Minta Pelanggan Lapor Jika Masih Mengalami Kendala

Tito menyebut kuota penerimaan berada di kisaran 400 calon taruna dan taruni. Dengan jumlah awal 1.845 peserta pada tahap kesehatan, persaingan untuk memperoleh tempat dalam pendidikan kedinasan tersebut masih cukup ketat.

Karena itu, peserta perlu mengikuti setiap tahapan sesuai ketentuan panitia. Pemeriksaan kesehatan bukan hanya bagian administratif, melainkan salah satu proses untuk menilai kesesuaian peserta dengan persyaratan yang ditetapkan.

Melalui rangkaian seleksi tersebut, penyelenggara diharapkan dapat menjalankan penerimaan secara tertib, sementara pengawasan Ombudsman membantu memastikan pelayanan kepada seluruh peserta tetap transparan dan layak.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *