Kemenkes Pantau Kenaikan Influenza di Indonesia, Aktivitas Penyakit Masih Berada pada Level Medium

Indonesiaku.co –Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan influenza di Indonesia setelah terjadi peningkatan aktivitas penyakit pada beberapa wilayah. Pada minggu ke-38 tahun 2026, positivity rate influenza tercatat sebesar 56 persen. Meski demikian, pemerintah menyebut aktivitas influenza masih berada dalam kategori medium.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan peningkatan kasus influenza perlu disikapi dengan memperkuat surveilans dan kesiapsiagaan. Ia meminta perkembangan kasus tetap dipantau berdasarkan data sehingga masyarakat tidak merespons peningkatan tersebut dengan kepanikan.

“Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” kata Budi di Jakarta, Senin.

Pemantauan influenza dilakukan melalui beberapa jalur surveilans. Berdasarkan data Kemenkes, aktivitas influenza pada surveilans puskesmas telah berada dalam kategori sedang atau medium. Sementara itu, aktivitas yang terpantau melalui surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah atau low.

Baca Juga:  31 Produk Ilegal Masuk Pengawasan BPOM, Klaim Obat Kuat hingga Pelangsing Jadi Sorotan

Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan aktivitas berdasarkan lokasi pemantauan. Karena itu, Kemenkes terus mengumpulkan informasi dari berbagai fasilitas kesehatan untuk memperoleh gambaran perkembangan influenza secara lebih menyeluruh.

Pada minggu ke-38 2026, sebanyak 265 spesimen diperiksa melalui surveilans sentinel. Dari jumlah tersebut, terdapat 148 spesimen yang positif influenza. Virus yang paling banyak ditemukan adalah Influenza A H1N1pdm09.

Peningkatan aktivitas influenza pada Agustus hingga September juga disebut masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia. Pemantauan pola musiman menjadi salah satu bagian penting dalam membaca perkembangan influenza dari waktu ke waktu.

Selain influenza yang dominan ditemukan dalam pemeriksaan, Kemenkes juga memberikan perhatian terhadap Influenza A H3N2 subclade K. Virus tersebut belakangan banyak diperbincangkan dengan istilah “superflu”.

Kemenkes menjelaskan bahwa istilah “superflu” bukan nomenklatur resmi yang digunakan oleh WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K. Oleh sebab itu, masyarakat diminta melihat kondisi influenza berdasarkan hasil pemeriksaan dan data surveilans.

Baca Juga:  Gempa Kuat Guncang NTT, Getaran Terasa hingga NTB dan Sulawesi Selatan

Budi juga menyampaikan bahwa jumlah temuan subclade K yang dipantau tahun ini justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Data surveilans sentinel ILI-SARI menunjukkan terdapat 188 hasil pemeriksaan subclade K sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 2026.

Dari total tersebut, sebanyak 166 temuan terjadi pada 2025 dan 22 temuan tercatat pada 2026. Kemenkes masih terus memantau perkembangan subclade K melalui sistem surveilans yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, laboratorium, dan balai kekarantinaan kesehatan.

Dalam penanganan influenza, tidak semua pasien membutuhkan obat antivirus. Menurut Budi, sebagian besar kasus dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap.

Penggunaan oseltamivir juga perlu dilakukan secara tepat. Kemenkes menyampaikan bahwa antivirus tersebut sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan terapi antivirus.

Baca Juga:  Warga Jakarta Perlu Waspada Perubahan Cuaca, Hujan Ringan Diprediksi Mengguyur Empat Wilayah

Pembatasan penggunaan tersebut berkaitan dengan risiko resistansi terhadap obat antivirus. Penggunaan antivirus secara berlebihan dapat menyebabkan obat menjadi kurang efektif ketika dibutuhkan untuk kondisi yang lebih berat.

Kemenkes juga memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium, serta komunikasi risiko kepada masyarakat. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan surveilans agar perubahan aktivitas influenza dapat diketahui.

Masyarakat diimbau tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker dianjurkan ketika sedang sakit atau berada di tempat ramai, disertai penerapan etika batuk dan bersin.

Kelompok rentan seperti bayi, anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Jika gejala influenza memburuk, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *