Indonesiaku.co – Proses pemulihan pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan pemerintah. Salah satu tahapan yang kini menjadi perhatian adalah verifikasi kerusakan rumah warga yang terdampak guncangan gempa pada 15 Agustus.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 102.384 unit rumah mengalami dampak akibat bencana tersebut. Bangunan yang terdampak terbagi ke dalam kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan.
Pendataan tingkat kerusakan menjadi bagian penting sebelum bantuan stimulan pemulihan hunian diberikan kepada masyarakat. Karena itu, BNPB bersama pemerintah daerah melakukan verifikasi langsung di lapangan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan verifikasi dilakukan untuk memastikan ketepatan penyaluran bantuan. Data yang diperoleh dari lapangan akan menjadi dasar dalam proses pemulihan hunian warga.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan progres pendataan dan verifikasi telah menunjukkan perkembangan signifikan. Saat ini, pemetaan terhadap rumah terdampak di seluruh wilayah telah mencapai sekitar 70 persen dari keseluruhan target unit bangunan.
Capaian tersebut terus dikejar agar seluruh proses pendataan dapat segera diselesaikan. BNPB menargetkan verifikasi data fisik rumah rusak dapat dirampungkan secara menyeluruh pada pekan berikutnya.
Penyelesaian verifikasi diharapkan dapat mempercepat tahapan selanjutnya, terutama proses pencairan bantuan perbaikan rumah. Dengan data yang telah diverifikasi, bantuan stimulan pemulihan hunian dapat disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang dialami warga.
Penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan bangunan. BNPB juga mencatat dampak gempa terhadap keselamatan masyarakat. Akumulasi korban jiwa mencapai 136 orang.
Sebanyak 88 korban di antaranya meninggal dunia secara tidak langsung atau setelah sempat mendapatkan penanganan medis. BNPB menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya warga yang terdampak bencana tersebut.
Di tengah proses pemulihan, kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian juga terus diperhatikan. BNPB telah menyalurkan bantuan logistik darurat dengan total akumulasi mencapai 2.178 ton.
Logistik tersebut didistribusikan melalui dua posko utama di wilayah NTT. Distribusi pertama dilakukan melalui pos yang berada di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan jumlah mencapai 1.379 ton.
Sementara itu, sebanyak 664 ton bantuan logistik disalurkan melalui wilayah Maumere, Kabupaten Sikka. Kedua titik tersebut menjadi tumpuan distribusi bantuan bagi kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Besarnya jumlah rumah terdampak menunjukkan luasnya kebutuhan pemulihan pascagempa di NTT. Karena itu, proses verifikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tahapan penanganan bencana.
BNPB bersama pemerintah daerah kini masih melanjutkan pemetaan terhadap rumah-rumah yang belum masuk dalam verifikasi. Target penyelesaian pada pekan berikutnya diharapkan dapat menjadi momentum untuk melanjutkan proses pemulihan hunian masyarakat.
Dengan selesainya pendataan dan verifikasi, pemerintah dapat bergerak ke tahap berikutnya, yakni pelaksanaan pencairan bantuan perbaikan. Proses tersebut diharapkan membantu warga terdampak untuk memulihkan kembali tempat tinggal mereka setelah mengalami kerusakan akibat gempa.***