Goa Rangko hingga Kelimutu Ditutup Sementara, Keamanan Wisatawan Jadi Prioritas

Indonesiaku.co – Sejumlah destinasi wisata populer di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk sementara belum dapat dikunjungi wisatawan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut.

Penutupan dilakukan untuk memastikan kondisi destinasi dan infrastruktur pendukung telah aman sebelum kegiatan pariwisata kembali dibuka.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan terdapat sejumlah objek wisata yang masih membutuhkan pemeriksaan dan pemulihan. Oleh karena itu, destinasi tersebut ditutup sementara demi menghindari risiko terhadap wisatawan.

Beberapa destinasi yang masih ditutup adalah Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, serta Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende.

Ketiga destinasi tersebut dikenal sebagai kawasan wisata unggulan di Flores. Goa Rangko menjadi salah satu tujuan wisata alam di Manggarai Barat, sementara Wae Rebo dikenal sebagai kampung adat yang memiliki daya tarik budaya. Adapun Taman Nasional Kelimutu terkenal dengan kawasan Danau Kelimutu yang menjadi salah satu tujuan wisata penting di Kabupaten Ende.

Baca Juga:  Evakuasi Korban Kebakaran KMP Mutiara Santosa II Berlangsung Hingga Dini Hari, Posko DVI Disiagakan di Tanjung Perak

Berton mengatakan informasi mengenai pembukaan kembali destinasi akan disampaikan oleh otoritas pariwisata daerah. Pembukaan dilakukan setelah petugas menyelesaikan penanganan dan verifikasi keamanan di lapangan.

Penutupan sementara bukan berarti seluruh kegiatan pariwisata di Flores dihentikan. BNPB memastikan kawasan Taman Nasional Komodo dan wilayah sekitarnya tetap beroperasi secara normal. Wisatawan domestik maupun mancanegara masih dapat mengakses kawasan tersebut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap sektor pariwisata tidak terjadi secara merata. Beberapa destinasi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, sementara kawasan lainnya masih dapat menerima wisatawan.

BNPB mencatat delapan objek daya tarik wisata mengalami kerusakan ringan. Selain objek wisata, kerusakan juga terjadi pada fasilitas akomodasi yang digunakan wisatawan.

Baca Juga:  Menjelajahi Dunia Fantasi Jakarta, Surga Wahana Permainan di Tengah Ibu Kota

Dua hotel dan tiga homestay dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sementara itu, 10 hotel dan lima homestay mengalami kerusakan ringan. Kerusakan tersebut tersebar di beberapa kabupaten terdampak, termasuk Nagekeo.

Keselamatan wisatawan menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menentukan apakah suatu destinasi dapat kembali beroperasi. Pemeriksaan infrastruktur diperlukan untuk memastikan tidak terdapat kondisi yang dapat membahayakan pengunjung.

Dampak gempa juga dirasakan masyarakat secara luas. BNPB melaporkan lebih dari 5.000 orang mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan ringan hingga berat. Warga mengungsi secara mandiri maupun menempati posko yang telah disediakan.

Pendataan sementara menunjukkan sedikitnya 914 rumah mengalami kerusakan berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah mengalami kerusakan ringan.

Selain rumah warga, fasilitas publik juga terdampak. Sebanyak 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah tercatat mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.

Baca Juga:  Pekanbaru Lindungi Peserta Didik dari Kabut Asap, Pembelajaran Dialihkan ke Daring

Dampak paling serius terlihat dari jumlah korban jiwa. Hingga Senin, 17 Agustus, BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia. Korban berasal dari tujuh kabupaten, dengan jumlah terbesar berasal dari Manggarai sebanyak 26 jiwa dan Manggarai Timur sebanyak 24 jiwa.

Pemerintah terus melakukan penanganan dan pendataan untuk mengetahui kondisi terbaru di wilayah terdampak. Dalam sektor pariwisata, pemeriksaan destinasi menjadi salah satu bagian dari proses pemulihan.

Wisatawan diharapkan tidak memaksakan diri mengunjungi destinasi yang masih dinyatakan tutup. Informasi resmi dari pemerintah daerah dan pengelola wisata menjadi acuan utama sebelum melakukan perjalanan.

Jika proses pemeriksaan telah selesai dan kondisi infrastruktur dinyatakan layak, destinasi wisata yang ditutup sementara dapat kembali dibuka secara bertahap. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keselamatan pengunjung sekaligus mendukung pemulihan sektor pariwisata Flores.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *