Indonesiaku.co – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat kembali menunjukkan dampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat. Selain menghasilkan kabut asap yang menyebar hingga Sarawak, Malaysia, kebakaran juga menimbulkan ancaman terhadap satwa liar yang berada di kawasan terdampak.
Salah satu lokasi yang menghadapi risiko adalah pusat rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang. Fasilitas tersebut menjadi tempat perawatan lebih dari 60 orangutan Kalimantan. Kobaran api sempat mendekati kawasan rehabilitasi hingga jarak sekitar satu kilometer.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena api dapat meluas dengan cepat, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung terjadinya kebakaran. Keselamatan orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi menjadi perhatian penting karena satwa tersebut membutuhkan lingkungan yang aman dan terkontrol.
Beruntung, kobaran api yang berada di sekitar kawasan tersebut berhasil dipadamkan. Dengan demikian, ancaman langsung terhadap fasilitas rehabilitasi dan satwa di dalamnya dapat dikendalikan.
Namun, ancaman karhutla tidak berhenti pada kawasan hutan dan pusat rehabilitasi. Asap dari kebakaran Kalimantan Barat juga bergerak melintasi wilayah perbatasan hingga Sarawak.
Di Tebedu, kualitas udara tercatat mengalami penurunan tajam. Indeks Pencemaran Udara di wilayah tersebut mencapai lebih dari 200 pada 12 Agustus. Kondisi itu mendorong pemerintah setempat mengambil tindakan dengan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di enam sekolah.
Para siswa kemudian mengikuti kegiatan belajar secara daring. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi anak-anak dari paparan udara tercemar ketika konsentrasi asap meningkat.
Kualitas udara buruk juga dilaporkan di sejumlah wilayah lain di Sarawak. Data pemantauan menunjukkan setidaknya 11 kawasan berada dalam kategori tidak sehat pada periode yang sama.
Kota Kuching bahkan sempat menjadi salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan pemantauan kualitas udara secara real-time pada 11 Agustus. Situasi tersebut menunjukkan besarnya pengaruh kabut asap terhadap kawasan yang berada cukup jauh dari sumber kebakaran.
Peningkatan titik panas di Kalimantan Barat menjadi salah satu perhatian utama. Semakin banyak titik panas yang muncul, semakin besar pula potensi terjadinya kebakaran dan penyebaran asap.
Krisis tersebut memperlihatkan bahwa karhutla memiliki konsekuensi yang saling berkaitan. Kebakaran dapat mengancam hutan, satwa, kesehatan manusia, pendidikan hingga hubungan lingkungan antarwilayah.
Penanganan karhutla karena itu tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan melalui pengawasan titik panas, patroli kawasan rawan, kesiapan pemadam serta perlindungan habitat satwa perlu diperkuat.
Kasus di Ketapang sekaligus menjadi pengingat bahwa satwa liar merupakan kelompok yang turut menghadapi dampak langsung ketika kebakaran terjadi. Perlindungan terhadap orangutan dan habitatnya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keselamatan masyarakat dari paparan kabut asap.***