Indonesiaku.co – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) menyoroti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga pekan ke-34 tahun 2026, jumlah kasus ISPA di Kalimantan Timur tercatat sekitar 9.499 kasus.
Kepala Dinkes Kaltim dr. Jaya Mualimin mengatakan angka tersebut memang lebih tinggi dibandingkan catatan pada awal tahun. Meski demikian, kenaikannya belum dinilai signifikan.
“Memang ada peningkatan kasus, tetapi peningkatannya jika dibandingkan dengan Januari, Februari, dan Maret itu kecil. Masih seputar sekitar 9.499 kasus,” ujar Jaya saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2026).
Pada Januari 2026, kasus ISPA di Kalimantan Timur berada di angka sekitar 9.300 kasus. Jumlah tersebut kemudian sempat mengalami penurunan pada pertengahan tahun.
Namun, tren tersebut berubah ketika memasuki periode kemarau. Bertambahnya titik api di sejumlah wilayah membuat kondisi udara kembali menjadi perhatian. Situasi tersebut kemudian turut diikuti peningkatan kasus ISPA.
“Pertengahan tahun memang sempat turun, kemudian naik lagi karena dipicu titik-titik api yang ada,” kata Jaya.
Kondisi kualitas udara di Kaltim semakin kompleks karena wilayah tersebut juga terdampak asap kiriman dari sejumlah daerah lain di Pulau Kalimantan. Asap tersebut berasal dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Menurut Jaya, tidak adanya hujan membuat kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan. Asap yang berada di udara dapat bertahan lebih lama ketika kondisi cuaca tidak mendukung terjadinya hujan.
“Ditambah lagi asap kiriman dari Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Kita juga tidak hujan, sehingga kondisi ini menjadi salah satu perhatian kita, terutama di Kutai Barat,” ungkapnya.
Dinkes Kaltim kemudian memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah wilayah yang mengalami kondisi udara kurang baik. Kutai Barat menjadi salah satu daerah yang kondisinya paling mengkhawatirkan, disusul Berau dan Kutai Kartanegara.
Kondisi di Kutai Barat terlihat dari tingginya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Beberapa hari sebelumnya, ISPU di wilayah tersebut sempat mencapai angka 318 mikrogram per meter kubik udara.
Jaya menyebut angka tersebut sudah masuk kategori berbahaya. Kondisi kemudian mengalami penurunan, tetapi kualitas udara belum dapat dikatakan baik.
“Beberapa hari lalu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sempat mencapai 318 mikrogram per meter kubik udara, dan itu sudah masuk kategori berbahaya,” jelasnya.
Pada Kamis, angka ISPU di Kutai Barat disebut turun menjadi 280 mikrogram per meter kubik udara. Kendati turun cukup dari angka sebelumnya, kondisi tersebut masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.
“Seharusnya di bawah 55, tetapi hari ini sudah turun lagi menjadi 280, namun masih dianggap sangat tidak sehat. Itu di Kutai Barat,” ujar Jaya.
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dan polusi dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan, termasuk ISPA. Masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi udara dan kesehatan.
Dinkes Kaltim masih memantau perkembangan kasus ISPA dan kondisi kualitas udara di berbagai wilayah. Pemerintah juga perlu memperhatikan perkembangan titik api serta kondisi cuaca karena kedua faktor tersebut dapat memengaruhi kualitas udara dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan kasus ISPA yang telah mencapai sekitar 9.499 kasus, peningkatan tersebut belum dianggap sebagai lonjakan besar. Namun, kondisi udara yang sangat tidak sehat di sejumlah daerah menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat tetap menjadi persoalan yang harus diwaspadai.***