Indonesiaku.co – Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu dini hari kembali menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Gunung tersebut meluncurkan awan panas guguran sejauh 5,5 kilometer dari puncak menuju arah tenggara, tepatnya ke Besuk Kobokan.
Meski aktivitas vulkanik masih terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Lumajang menyampaikan bahwa kegiatan masyarakat di sekitar lereng gunung masih berlangsung lancar.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa tidak terdapat dampak signifikan terhadap aktivitas warga akibat erupsi tersebut.
Menurutnya, salah satu faktor yang mendukung kondisi tersebut adalah kawasan zona merah rawan bencana erupsi telah disterilkan dari aktivitas masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat tidak melakukan kegiatan di wilayah yang memiliki risiko tinggi terdampak langsung oleh aktivitas vulkanik.
Walaupun belum ditemukan dampak signifikan terhadap aktivitas warga, BPBD tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Petugas terus melakukan pemantauan dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan perubahan kondisi Gunung Semeru.
Tim Reaksi Cepat BPBD bersama aparat TNI dan Polri disiagakan di Pos Pantau Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo.
Kesiapsiagaan tersebut dilakukan untuk membantu mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik serta mendukung langkah penanganan apabila situasi mengalami perubahan.
Sebelumnya, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 00.11 WIB.
Tinggi kolom letusan diperkirakan mencapai satu kilometer di atas puncak gunung.
Erupsi berlangsung sekitar enam menit dengan amplitudo maksimum mencapai 33 milimeter berdasarkan rekaman seismograf.
Kolom abu teramati berwarna kelabu dan cukup tebal dengan arah sebaran menuju selatan serta barat daya.
Aktivitas tersebut juga terjadi setelah erupsi pada Jumat sore, 6 November, yang menghasilkan awan panas guguran sejauh lima kilometer.
Saat ini, Gunung Semeru masih berstatus Siaga atau Level III.
BPBD Lumajang mengingatkan masyarakat untuk mematuhi sejumlah batas kawasan yang tidak boleh dimasuki.
Warga dan pengunjung dilarang melakukan aktivitas di sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat harus menjauhi area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Hal ini berkaitan dengan potensi awan panas dan aliran lahar yang dapat mencapai jarak 17 kilometer dari puncak.
Kawasan dalam radius lima kilometer dari kawah juga harus dihindari karena berisiko terkena lontaran batu pijar.
BPBD turut mengingatkan masyarakat mengenai potensi guguran lava dan aliran lahar di sejumlah lembah sungai.
Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Warga juga diminta mewaspadai sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Melalui pemantauan dan kepatuhan terhadap imbauan keselamatan, risiko akibat aktivitas Gunung Semeru diharapkan dapat diminimalkan.***