Indonesiaku.co – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami pertumbuhan tubuh setelah keruntuhan besar pada Desember 2018. Data pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menunjukkan luas daratan gunung api tersebut kini mencapai 341,5 hektare.
Pertumbuhan tersebut membuat luas daratan Anak Krakatau bahkan melampaui ukuran sebelum terjadi erupsi dan keruntuhan pada 2018. Sebelum bencana tersebut, luas daratan gunung tercatat sekitar 300 hektare pada 19 Desember 2018.
Tiga hari kemudian, tepatnya 22 Desember 2018, terjadi keruntuhan sektor barat daya. Peristiwa tersebut menyebabkan perubahan besar pada bentuk fisik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan data PVMBG, setelah keruntuhan tersebut luas daratan gunung menyusut drastis. Pada 26 Desember 2018, luas daratan yang tersisa tercatat sekitar 246,18 hektare.
Keruntuhan tubuh gunung tersebut juga berkaitan dengan material dalam jumlah besar yang masuk ke laut. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan bahwa peristiwa tersebut memuntahkan sekitar 0,116 kilometer kubik material ke laut.
Selain mengurangi luas daratan, keruntuhan juga membuat ketinggian puncak Anak Krakatau berubah drastis. Sebelum peristiwa tersebut, puncak gunung memiliki ketinggian sekitar 330 meter. Setelah keruntuhan, ketinggian puncaknya menjadi sekitar 120 meter.
Peristiwa tersebut juga memicu tsunami di Selat Sunda. Setelah kejadian itu, kondisi morfologi Anak Krakatau mengalami perubahan dan gaya erupsinya ikut berubah.
Namun, tubuh Anak Krakatau kemudian kembali berkembang. Aktivitas erupsi yang berlangsung secara berkelanjutan menghasilkan material baru yang menumpuk di sekitar tubuh gunung.
Data PVMBG memperlihatkan perkembangan tersebut secara bertahap. Pada 8 Agustus 2026, luas daratan Anak Krakatau tercatat sudah mencapai 312,3 hektare.
Pertumbuhan kemudian semakin besar setelah fase letusan yang berlangsung pada 4 hingga 6 September 2026. Pada fase tersebut, material hasil erupsi menambah luas daratan sekitar 32,8 hektare.
Dengan penambahan itu, luas total daratan Anak Krakatau berdasarkan pemantauan citra Satelit Sentinel per 15 September 2026 mencapai 341,5 hektare.
Angka tersebut menjadi bagian dari proses pembangunan kembali tubuh gunung setelah keruntuhan 2018. Pertumbuhan tersebut juga sejalan dengan penelitian kolaboratif yang melibatkan BRIN, University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, dan PVMBG.
Menurut penelitian tersebut, Anak Krakatau saat ini berada dalam fase rekonstruksi atau rebuilding phase. Siklus perkembangan gunung api tersebut memperlihatkan adanya proses pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.
Dini menjelaskan bahwa perubahan aktivitas Anak Krakatau menunjukkan sistem gunung api bersifat dinamis. Setelah kolaps pada 2018, morfologi serta gaya erupsi mengalami perubahan. Selanjutnya, pertumbuhan kembali berlangsung melalui erupsi dan pembentukan lava baru.
Sejak 2019 hingga 2026, aktivitas erupsi Anak Krakatau bertransisi kembali ke tipe Strombolian, lava fountain, serta lelehan lava baru. Lava dan material erupsi tersebut kemudian menumpuk di atas kawah pascakeruntuhan.
Meski tubuh gunung kembali membesar, pertumbuhannya tidak terjadi secara simetris. Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera bawah laut yang curam, sedangkan bagian timur laut berada di atas dasar laut yang lebih dangkal.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kestabilan lereng Anak Krakatau dalam jangka panjang. Struktur tubuh gunung juga tersusun atas lava padat dan berat yang berada di atas endapan tuf ringan serta berpori.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perubahan ukuran Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari proses geologi yang terus berkembang. Aktivitas gunung api tersebut masih menjadi bagian dari pemantauan PVMBG dan para peneliti.***