Sekolah Rakyat Fokus pada Tiga Aspek Penerimaan Siswa, Bukan Sekadar Nilai Akademik

Indonesiaku.co – Sekolah Rakyat menerapkan pendekatan khusus dalam proses penerimaan dan pendampingan siswa. Program pendidikan tersebut tidak menjadikan kemampuan akademik sebagai satu-satunya ukuran dalam menilai calon peserta didik. Sebaliknya, kondisi kesehatan dan profil psikososial juga menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. Mohammad Nuh menjelaskan bahwa terdapat tiga variabel utama yang menjadi perhatian saat penerimaan siswa baru. Ketiganya meliputi kondisi fisik dan kesehatan, profil psikososial, serta kemampuan akademik.

Pendekatan tersebut berkaitan dengan karakteristik peserta didik Sekolah Rakyat yang berasal dari kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin. Mereka masuk dalam kategori Desil 1 hingga Desil 4 dalam pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Dengan latar belakang tersebut, setiap siswa dapat memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada anak yang membutuhkan perhatian terhadap kondisi kesehatannya, sementara yang lain membutuhkan pendampingan dalam aspek sosial dan psikologis.

Baca Juga:  Kasus Kematian Winda Lorenza Disorot DPR, Polda Sumut dan Polresta Medan Akan Dimintai Penjelasan

Nuh mengatakan keberagaman latar belakang tersebut dapat memunculkan dinamika ketika anak-anak mulai tinggal bersama di lingkungan asrama. Pengalaman hidup yang berbeda dapat membentuk karakter dan pola perilaku yang tidak sama antara satu siswa dengan siswa lainnya.

Karena itu, sekolah melakukan pemetaan terhadap kondisi siswa. Apabila ditemukan anak yang memiliki perilaku sosial berisiko, penanganan khusus akan dilakukan sebelum anak tersebut sepenuhnya digabungkan dengan siswa lain.

Menurut Nuh, apabila perilaku yang berpotensi mengganggu langsung bercampur dengan siswa lain, terdapat kemungkinan terjadinya pengaruh negatif dalam lingkungan pergaulan. Oleh sebab itu, anak yang membutuhkan penanganan akan mendapatkan pendampingan dan pembenahan terlebih dahulu.

Penanganan tersebut juga tidak hanya dilakukan pada saat penerimaan. Sekolah terus memantau perkembangan siswa selama mereka menjalani pendidikan. Sebab, tidak semua persoalan dapat terlihat ketika proses penyaringan awal.

Baca Juga:  BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem, Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah

Nuh mengakui ada sejumlah dinamika perilaku yang baru terlihat setelah kegiatan pendidikan berjalan. Dalam kondisi seperti itu, sekolah telah memiliki mekanisme untuk menangani kasus yang muncul.

Kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama diberikan kewenangan untuk mengidentifikasi serta menangani berbagai dinamika perilaku siswa. Kehadiran wali asuh dan wali asrama menjadi penting karena siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menjalani kehidupan bersama dalam lingkungan asrama.

Selain persoalan psikososial, aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Pemilahan serupa diterapkan kepada siswa yang mengalami penyakit fisik menular, seperti TBC. Siswa dengan kondisi tersebut perlu mendapatkan pengobatan terlebih dahulu sebelum berada dalam lingkungan bersama dengan siswa lainnya.

Meskipun terdapat pemilahan dan pendampingan, Nuh menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tetap tidak melakukan seleksi berdasarkan kemampuan akademik. Program tersebut juga melarang pemberhentian siswa atau drop out.

Baca Juga:  DPR Tanggapi Aksi BEM UI dan Tuntutan Status Bencana Nasional

Prinsip tersebut menjadi bagian penting dari tujuan Sekolah Rakyat sebagai program pendidikan untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Anak-anak yang masuk dalam kelompok miskin-rentan miskin diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan sekaligus mengembangkan potensi mereka.

Nuh menilai banyak siswa yang awalnya kurang percaya diri justru mulai menunjukkan perkembangan setelah mengikuti pendidikan. Bakat dan kemampuan mereka dapat muncul ketika mendapatkan lingkungan belajar, pendampingan, serta kesempatan yang sesuai.

Dengan demikian, evaluasi terhadap kondisi siswa tidak dimaksudkan untuk mencari alasan mengeluarkan anak dari sekolah. Sebaliknya, pemetaan dilakukan agar sekolah dapat mengetahui kebutuhan setiap peserta didik dan menentukan bentuk pendampingan yang tepat.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *