Cali Jadi Kota dengan Korban Gempa Terbanyak, 239 Orang Masih Terjebak di Reruntuhan

Indonesiaku.co – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026) menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar di sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan Asosiasi Ibu Kota Provinsi Kolombia atau Asocapitales, sedikitnya 190 orang meninggal dunia dan 1.679 orang mengalami luka-luka.

Cali menjadi salah satu kota yang mengalami dampak paling serius. Kota yang merupakan ibu kota Departemen Valle del Cauca tersebut mencatat 95 korban meninggal dunia. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibandingkan sejumlah kota lain yang masuk dalam laporan Asocapitales.

Tidak hanya korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka di Cali juga sangat besar. Sebanyak 999 orang dilaporkan terluka akibat gempa.

Situasi semakin memprihatinkan karena masih terdapat warga yang belum berhasil ditemukan. Asocapitales menyebut sebanyak 239 orang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan di Cali. Selain itu, 180 orang lainnya dilaporkan hilang.

Baca Juga:  Ketegangan AS-Iran Memanas Lagi, Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas

Tim pencarian dan penyelamatan masih melakukan operasi untuk menemukan korban yang kemungkinan berada di bawah bangunan yang runtuh. Proses tersebut dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kondisi bangunan dan infrastruktur yang terdampak.

Kerusakan akibat gempa tidak hanya terjadi di Cali. Pereira juga mengalami dampak yang sangat besar dengan 81 orang meninggal dunia dan 278 orang mengalami luka-luka.

Di Quibdo, tercatat sembilan orang meninggal dunia dan 116 orang terluka. Sementara Manizales mencatat lima korban meninggal dan 112 orang terluka. Adapun Armenia dilaporkan memiliki 174 korban luka.

Secara keseluruhan, sebanyak 243 bangunan dilaporkan runtuh di lima kota yang terdampak paling parah. Kelima kota tersebut adalah Pereira, Quibdo, Manizales, Armenia, dan Cali.

Baca Juga:  Blokade Sekolah Kembali Terjadi di Prancis, Mahasiswa Serukan Aksi Massa pada 5 November

Kelima wilayah tersebut masih berada dalam zona siaga merah. Status tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana masih membutuhkan perhatian serius, terutama karena operasi pencarian, penyelamatan, dan pemeriksaan infrastruktur masih berjalan.

Pemerintah dan petugas terkait juga masih menghitung kerusakan yang ditimbulkan gempa. Pemeriksaan bangunan menjadi salah satu bagian penting untuk memastikan apakah fasilitas yang masih berdiri aman digunakan atau justru membutuhkan pembatasan akses.

Gangguan juga terjadi pada sektor penerbangan. Penerbangan dari dan menuju tiga bandara di Kolombia masih dihentikan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari dampak gempa terhadap aktivitas masyarakat dan infrastruktur transportasi.

Di sisi lain, beberapa bandara telah kembali beroperasi setelah dilakukan penanganan dan pemeriksaan. Bandara yang disebut telah kembali beroperasi berada di Manizales, Quibdo, Armenia, Cali, dan Buenaventura.

Baca Juga:  Trump Kembali Singgung Pemilu AS 2020 dan Kaitkannya dengan Pecahnya Perang Ukraina

Gempa tersebut terjadi pada Senin (10/8) dengan magnitudo 7,4. Pusat gempa berada di dekat San Jose del Palmar, yang terletak di Departemen Choco.

Guncangan tidak hanya dirasakan di sekitar episentrum. Getaran gempa terasa di sebagian besar wilayah Kolombia hingga sejumlah negara tetangga.

Besarnya jumlah korban dan kerusakan membuat operasi tanggap darurat masih terus dilakukan. Fokus utama saat ini adalah menyelamatkan warga yang masih terjebak, mencari orang yang hilang, memberikan penanganan kepada korban luka, serta memastikan keamanan bangunan dan infrastruktur di wilayah terdampak.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *