Peringatan Level 5 Melanda Chiba, Lebih dari 400.000 Warga Jepang Diminta Evakuasi

Indonesiaku.co – Hujan ekstrem melanda wilayah timur Jepang sejak Kamis (13/8) hingga Jumat dini hari. Prefektur Chiba menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling serius akibat curah hujan tinggi. Sedikitnya tiga orang meninggal dunia dalam bencana tersebut.

Badan Meteorologi Jepang menetapkan peringatan Level 5 untuk sejumlah wilayah terdampak. Level tersebut merupakan tingkat tertinggi dalam sistem peringatan bencana Jepang dan menunjukkan kondisi yang sangat berbahaya bagi masyarakat.

Hujan deras menyebabkan sejumlah jalan di Chiba terendam banjir. Pemerintah Kota Chiba dan Ichikawa mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk segera mengambil langkah keselamatan karena terdapat kemungkinan bencana sedang berlangsung atau akan segera terjadi.

Ancaman tidak hanya berasal dari banjir. Peringatan tanah longsor Level 5 juga dikeluarkan untuk sejumlah kawasan, termasuk Chiba dan Ichihara. Hujan dengan intensitas tinggi membuat kondisi tanah menjadi lebih rentan dan meningkatkan risiko terjadinya longsor.

Baca Juga:  Estonia Perkuat Kerja Sama dengan NATO, Jumlah Pasukan Ditargetkan Naik pada 2027

Badan Meteorologi Jepang menjelaskan bahwa hujan ekstrem tersebut berkaitan dengan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil. Udara hangat dan lembap mengalir menuju wilayah timur Jepang dan bertemu dengan udara dingin di lapisan atas atmosfer. Pertemuan massa udara tersebut memicu pertumbuhan awan hujan dan menghasilkan curah hujan sangat tinggi.

Hujan lebat diperkirakan masih berlangsung di Chiba dan daerah sekitarnya hingga Jumat. Situasi tersebut mendorong pemerintah mengeluarkan perintah evakuasi dalam skala besar.

Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana menyebut lebih dari 400.000 warga di Prefektur Chiba dan Ibaraki telah menerima perintah evakuasi hingga Jumat tengah malam. Di sisi lain, perintah evakuasi di sebagian wilayah Saitama telah dicabut.

Untuk mendukung masyarakat yang harus mengungsi, Kantor Kabinet Jepang menyiapkan sedikitnya 200 lokasi penampungan. Tempat evakuasi tersebut tersebar di Chiba, Ibaraki, Saitama, dan Gunma.

Baca Juga:  Jepang Perbarui Data Korban Gempa Kumamoto, 34 Orang Meninggal dan Puluhan Terluka

Banjir juga menyebabkan sejumlah kendaraan terjebak di jalan. Petugas pemadam kebakaran menerima panggilan dari warga yang membutuhkan bantuan karena terjebak di dalam kendaraan mereka.

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Seorang pria ditemukan di jalan yang terendam banjir di Ichikawa dan kemudian dipastikan meninggal dunia.

Seorang perempuan berusia 66 tahun juga meninggal setelah terjebak di dalam mobil yang berada di jalan tergenang di Sakura. Sementara seorang pria lainnya ditemukan tidak sadarkan diri di jalan yang terendam banjir di Yachiyo dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Di sejumlah kawasan, kondisi banjir cukup parah. Air bahkan keluar dari lubang saluran pembuangan di Kota Chiba. Warga yang berusaha pulang harus berjalan melewati genangan air setinggi lutut.

Gedung pemerintah prefektur turut dibuka sebagai tempat pengungsian. Ratusan warga berkumpul di sana karena tidak dapat melanjutkan perjalanan atau merasa tidak aman untuk pulang.

Baca Juga:  Gelombang Panas Perparah Kebakaran Hutan di Prancis, Ribuan Hektare Lahan Hangus dan 12.000 Warga Mengungsi

Salah seorang warga berusia 34 tahun yang sedang perjalanan dari Tokyo mengatakan dirinya harus berjalan dalam genangan hingga lutut. Ia juga melihat minimarket dan pos polisi mengalami pemadaman listrik.

Curah hujan ekstrem tercatat di Distrik Chuo, Chiba. Pada Kamis malam, hujan mencapai 115 milimeter dalam satu jam. Intensitas tersebut setara dengan total curah hujan normal selama satu bulan pada Agustus di kawasan itu.

Bencana juga mengganggu pasokan listrik. Sekitar 45.000 rumah di Prefektur Chiba terdampak pemadaman listrik.

Pemerintah Jepang terus memantau kondisi dan meminta masyarakat mengikuti instruksi evakuasi serta informasi dari otoritas setempat. Dengan hujan yang masih berpotensi berlangsung, masyarakat di wilayah rawan diminta tidak mengabaikan peringatan keselamatan.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *