Raja Juli Antoni Izinkan Penggunaan Alat Berat untuk Sekat Bakar, Manggala Agni Dikerahkan ke Barito Utara

Indonesiaku.c0 – Kebakaran hutan dan lahan di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mendorong dilakukannya upaya pengendalian api untuk melindungi kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun sekat bakar sepanjang sekitar 3,2 kilometer.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau jalur tersebut bersama pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Sekat bakar itu mulai dibuat pada 11 September 2026 setelah upaya pemadaman berulang kali belum mampu menghentikan kemunculan api secara tuntas.

Jalur tersebut dibuat untuk menghambat penjalaran kebakaran dari area yang telah terbakar menuju kawasan lain yang masih memiliki vegetasi hijau.

Perlindungan kawasan yang belum terbakar menjadi penting karena hutan berfungsi sebagai tempat hidup berbagai satwa liar, termasuk orangutan Kalimantan.

Baca Juga:  Final Indonesia vs Thailand di SUGBK Diprediksi Penuh, 67 Ribu Tiket Ludes dan Polisi Siapkan Pengamanan Ketat

Orangutan membutuhkan habitat yang mendukung aktivitas sehari-hari, seperti mencari makanan, bergerak di antara pepohonan, dan menjalankan perilaku alaminya.

Ketika kebakaran merusak kawasan hutan, satwa dapat kehilangan bagian dari tempat hidupnya.

Kerusakan vegetasi juga dapat memengaruhi ketersediaan sumber makanan dan kondisi lingkungan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan satwa.

Karena itu, upaya menghambat penjalaran api menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi potensi dampak kebakaran terhadap ekosistem.

Di lokasi peninjauan, sekat bakar terlihat membatasi area yang telah terbakar dengan area yang masih hijau.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga agar api tidak merambat lebih jauh ke kawasan yang vegetasinya masih utuh.

Selain berfungsi sebagai pembatas, sekat bakar juga dapat membantu menyediakan ruang bagi tim pemadam untuk melakukan penanganan kebakaran.

Baca Juga:  Sebanyak 1.144 Personel PLN Dikerahkan untuk Pulihkan Listrik Flores Pascagempa

Meski demikian, keberadaan jalur tersebut tetap perlu didukung pengawasan dan penanganan lanjutan, terutama ketika kondisi api masih berpotensi berubah.

Chanee Kalaweit menjelaskan bahwa tim telah melakukan pemadaman selama sekitar 10 hari sebelum mengambil keputusan untuk membangun sekat bakar.

Ia menyebut api kembali menyala setelah upaya pemadaman dilakukan berulang kali.

Menurutnya, penguatan personel untuk menjaga sekat bakar menjadi penting setelah jalur tersebut selesai dibuat.

Pembangunan sekat bakar melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, petugas pemadam kebakaran, BPBD Barito Utara, masyarakat, dan pihak perusahaan.

Perusahaan turut memberikan dukungan berupa penggunaan alat berat untuk membantu proses pembangunan jalur.

Sebelumnya, Chanee menyampaikan kondisi kebakaran yang membesar di Barito Utara dan meminta bantuan penanganan.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Bertolak ke Kalimantan, Pimpin Langsung Penanganan Karhutla

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengizinkan penggunaan alat berat secara terbatas untuk pembuatan sekat bakar serta mengerahkan Manggala Agni ke lokasi.

Penggunaan alat berat ditekankan agar tetap sesuai kebutuhan penanganan kebakaran.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi karhutla yang tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga satwa yang hidup di dalamnya.

Melalui pengendalian api dan pengamanan kawasan, upaya perlindungan habitat orangutan Kalimantan diharapkan dapat berjalan seiring dengan penanganan kebakaran di Barito Utara.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *