Kivu Utara Catat 2.391 Kasus Ebola dan 1.341 Kematian, Fasilitas Perawatan Tertekan

Indonesiaku.co – Risiko yang dihadapi tenaga kesehatan dalam menangani wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo kembali menjadi perhatian setelah tiga dokter dilaporkan meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari 72 jam.

Menurut sumber-sumber kesehatan setempat, ketiga dokter tersebut meninggal akibat Ebola saat berada di sebuah pusat perawatan Ebola di Beni, Provinsi Kivu Utara.

Kematian para tenaga medis tersebut menyoroti besarnya risiko yang dihadapi petugas kesehatan ketika menangani penyakit menular di tengah situasi wabah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Africa CDC turut menyampaikan penghormatan kepada Dr. Marie-France Shogogo, yang meninggal dunia akibat Ebola di Beni.

Melalui platform media sosial X, badan kesehatan tingkat benua tersebut menyerukan peningkatan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan wabah.

Baca Juga:  Potensi Penjualan F-35 ke Arab Saudi Disebut AS Tak Ubah Keseimbangan Militer Timur Tengah

Pesan yang disampaikan menekankan pentingnya melindungi orang-orang yang bertugas menjaga keselamatan masyarakat.

Perhatian terhadap keselamatan tenaga medis menjadi semakin penting seiring besarnya jumlah kasus Ebola yang dilaporkan di Republik Demokratik Kongo.

Berdasarkan laporan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional (INSP) DRC hingga 28 Oktober, terdapat 10.274 kasus Ebola terkonfirmasi dengan 4.992 kematian.

Angka tersebut menghasilkan tingkat kematian kasus sebesar 48,6 persen.

Wabah telah memengaruhi 67 zona kesehatan di delapan dari 26 provinsi di negara tersebut.

Provinsi Kivu Utara menjadi salah satu wilayah yang menghadapi beban penanganan cukup besar.

Laporan INSP mencatat 2.391 kasus terkonfirmasi dan 1.341 kematian di provinsi tersebut.

Sementara itu, zona kesehatan Beni mencatat 661 kasus, termasuk 443 kematian, dengan tingkat kematian kasus mencapai 67 persen.

Baca Juga:  Dua Gempa Besar Venezuela Tewaskan 6.509 Orang, Puluhan Ribu Bangunan Masih Dievaluasi

Tingginya jumlah kasus dan kematian di Beni memperlihatkan beratnya situasi yang harus dihadapi tenaga medis di wilayah tersebut.

Tekanan terhadap layanan kesehatan juga terlihat dari tingkat penggunaan fasilitas perawatan Ebola di Kivu Utara yang mencapai 86,3 persen dari kapasitasnya.

Selain keterbatasan kapasitas pelayanan, pemantauan terhadap orang-orang yang pernah berkontak dengan kasus Ebola juga masih perlu diperkuat.

Laporan menunjukkan bahwa 82,2 persen kontak yang teridentifikasi sedang dipantau, sementara target yang ditetapkan mencapai 95 persen.

Pemantauan kontak merupakan bagian penting dalam upaya kesehatan masyarakat untuk mengenali kemungkinan penyebaran penyakit dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

Dalam kondisi wabah, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam merawat pasien, melakukan pemeriksaan, serta mendukung kegiatan pengendalian penyakit.

Baca Juga:  Kemenkes Pantau Kenaikan Influenza di Indonesia, Aktivitas Penyakit Masih Berada pada Level Medium

Namun, pelaksanaan tugas tersebut juga menuntut perhatian terhadap keselamatan petugas agar mereka dapat bekerja dengan perlindungan yang memadai.

Seruan Africa CDC menegaskan bahwa penanganan wabah tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga perlu memperhatikan keselamatan tenaga medis yang memberikan pelayanan.

Wabah yang disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo tersebut dinyatakan pada 15 Mei dan disebut sebagai wabah Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat di dunia.

Besarnya dampak wabah memperkuat kebutuhan akan dukungan bagi fasilitas kesehatan dan perlindungan bagi petugas yang bekerja di wilayah terdampak.

Kematian para dokter menjadi pengingat bahwa keselamatan tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam upaya menghadapi wabah penyakit menular.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *