Indonesiaku.co – Kecamatan Binjai Kota menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak banjir terbanyak di Kota Binjai, Sumatera Utara.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, banjir yang terjadi setelah hujan deras pada 10–11 Oktober 2026 berdampak pada 685 kepala keluarga (KK) atau 2.648 jiwa di kecamatan tersebut.
Banjir juga melanda Kecamatan Binjai Selatan. Di wilayah ini, sebanyak 537 KK atau 1.906 jiwa dilaporkan terdampak. Jika digabungkan, jumlah warga terdampak di kedua kecamatan mencapai 1.222 KK atau 4.554 jiwa.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyampaikan bahwa banjir di Kota Binjai terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (10/10/2026) hingga Minggu (11/10/2026).
Menurut laporan yang diterima, Kecamatan Binjai Kota menjadi wilayah yang paling banyak terdampak. Dampak banjir di kecamatan tersebut tersebar di tiga kelurahan. Sementara di Kecamatan Binjai Selatan, genangan dilaporkan melanda dua kelurahan.
Perbedaan jumlah warga terdampak di kedua kecamatan tersebut terlihat dari data yang disampaikan BPBD. Binjai Kota mencatat 742 jiwa lebih banyak terdampak dibandingkan Binjai Selatan. Meski demikian, kedua wilayah tetap menjadi bagian dari penanganan bencana yang dilakukan pemerintah daerah.
Banjir yang terjadi setelah hujan deras tersebut membuat sejumlah warga harus mengungsi. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan genangan air, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk aktivitas di rumah dan lingkungan tempat tinggal.
Pemerintah kota setempat melakukan koordinasi dengan pemangku kebijakan terkait dan menurunkan personel untuk membantu masyarakat terdampak. BPBD Sumatera Utara juga melakukan koordinasi dalam penanganan bencana di lokasi tersebut.
Koordinasi diperlukan agar penanganan di wilayah terdampak berjalan sesuai kebutuhan lapangan. Selain membantu warga, pemantauan kondisi lingkungan juga penting untuk mengetahui perkembangan situasi setelah hujan deras.
Sri Wahyuni menyampaikan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, air banjir telah surut. Namun, warga tetap perlu berhati-hati ketika kembali ke rumah atau beraktivitas di kawasan yang sebelumnya terdampak genangan.
Kondisi rumah, barang-barang yang terkena air, serta lingkungan sekitar sebaiknya diperiksa sebelum digunakan kembali. Warga juga perlu memperhatikan kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan setelah banjir.
Bencana yang melanda Binjai menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Informasi cuaca, kondisi saluran air, serta komunikasi antara masyarakat dan petugas dapat membantu meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras terjadi.
Dengan jumlah warga terdampak yang mencapai ribuan jiwa, penanganan banjir membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat. Pemantauan berkelanjutan serta kesiapan menghadapi kemungkinan hujan berikutnya menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kejadian serupa.***