Indonesiaku.co – Situasi keamanan di Haiti kembali menjadi perhatian setelah sekitar 12 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan anggota geng Kokorat San Ras di wilayah Gros-Morne, Haiti utara. Peristiwa tersebut terjadi setelah operasi pasukan multinasional yang bertugas memberantas kelompok geng digelar di kawasan itu.
Informasi tersebut dilaporkan oleh surat kabar Nouvelliste dan dikutip Sputnik pada Selasa. Menurut laporan itu, operasi dilakukan oleh Gang Suppression Force atau GSF, pasukan multinasional yang dikerahkan untuk membantu menghadapi kekuatan kelompok bersenjata di Haiti.
Seorang sumber setempat mengatakan kepada Nouvelliste bahwa tiga orang yang diduga merupakan anggota geng mengalami luka tembak selama operasi berlangsung. Tidak lama setelah operasi tersebut, serangan yang dikaitkan dengan anggota Kokorat San Ras dilaporkan terjadi di wilayah Gros-Morne.
Serangan itu menyebabkan sekitar 12 orang meninggal dunia. Informasi tersebut memperlihatkan bagaimana operasi keamanan di Haiti berlangsung dalam kondisi yang penuh risiko, terutama ketika kelompok geng masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan sebagai respons terhadap operasi aparat.
Haiti sendiri telah menghadapi krisis politik dan keamanan yang berkepanjangan. Salah satu titik penting dalam krisis tersebut adalah pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021. Setelah peristiwa tersebut, kondisi pemerintahan dan keamanan di negara tersebut semakin tidak stabil.
Lemahnya lembaga negara turut memberikan ruang bagi kelompok bersenjata untuk memperluas pengaruh. Sejumlah kawasan luas dilaporkan berada di bawah kendali geng. Kondisi itu juga terjadi di kawasan strategis, termasuk sebagian wilayah ibu kota dan terminal bahan bakar.
Penguasaan wilayah oleh geng membuat pemerintah menghadapi persoalan dalam menjalankan fungsi keamanan dan pelayanan kepada masyarakat. Bagi penduduk, keberadaan kelompok bersenjata juga dapat meningkatkan risiko kekerasan serta membatasi mobilitas di sejumlah kawasan.
GSF kemudian dikerahkan sebagai bagian dari upaya internasional untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Pasukan ini mulai ditempatkan di Haiti sejak Mei. Saat ini, jumlah personel GSF disebut telah melampaui 1.000 orang.
Kekuatan pasukan tersebut direncanakan meningkat secara bertahap. Targetnya, GSF dapat memiliki sekitar 5.500 personel pada Desember. Penambahan personel diharapkan dapat memperluas kemampuan operasi dalam menghadapi kelompok geng yang aktivitasnya tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kondisi geografis Haiti. Analis dari Global Initiative Against Transnational Organized Crime menyebut kepolisian Haiti masih kekurangan pelatihan yang diperlukan untuk menjalankan operasi di daerah pedesaan dan pegunungan.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan penting karena kekerasan geng semakin meluas ke wilayah di luar pusat kota. Daerah pegunungan dan pedesaan dapat memberikan keuntungan geografis bagi kelompok bersenjata sekaligus menyulitkan aparat untuk melakukan pengawasan.
Situasi di Gros-Morne memperlihatkan bahwa penanganan kekerasan geng di Haiti membutuhkan kemampuan operasi yang memadai dan koordinasi yang kuat. Kehadiran GSF menjadi salah satu bagian dari respons terhadap kondisi tersebut, tetapi penguatan kapasitas kepolisian dan lembaga negara tetap menjadi unsur penting.
Dengan jumlah personel GSF yang direncanakan meningkat hingga ribuan orang, operasi keamanan di Haiti akan terus menjadi perhatian. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa kelompok geng masih memiliki kemampuan melakukan kekerasan meski operasi internasional telah berlangsung.***