BMKG Jelaskan Gempa Bantul M3,5 Terjadi di Darat akibat Aktivitas Sesar Opak

Indonesiaku.co – Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diguncang gempa bumi tektonik bermagnitudo 3,5 pada Kamis pukul 17.20 WIB. Gempa tersebut dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Stasiun Geofisika (Stageof) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa terjadi akibat aktivitas Sesar Opak. Kepala Stageof Sleman Ardhianto Septiadhi mengatakan lokasi episenter berada di darat pada koordinat 7,88 derajat Lintang Selatan dan 110,45 derajat Bujur Timur.

Episenter tersebut berjarak sekitar 11 kilometer arah timur laut Bantul. Sementara kedalaman gempa tercatat 21 kilometer. Berdasarkan karakteristik lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, BMKG mengidentifikasi gempa sebagai gempa bumi dangkal.

Gempa dangkal dapat menghasilkan getaran yang cukup dirasakan masyarakat di sekitar sumber gempa, meskipun magnitudonya tidak tergolong besar. Dalam kejadian ini, getaran dirasakan di beberapa wilayah yang berada relatif dekat dengan episenter.

Baca Juga:  Hari Ketujuh KM Virgo Transport 8, Sebanyak 117 Korban Ditemukan dan 126 Masih Dicari

Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta mengalami getaran dengan intensitas III MMI. Skala tersebut menggambarkan getaran yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan memiliki sensasi seperti truk bermuatan yang sedang melintas.

Sementara itu, getaran dengan intensitas II MMI dirasakan di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Sleman. Getaran juga dilaporkan dirasakan di beberapa wilayah Jawa Tengah, yakni Klaten, Solo, dan Magelang.

Pada intensitas II MMI, getaran biasanya hanya dirasakan oleh beberapa orang. Benda-benda ringan yang digantung juga dapat terlihat bergoyang akibat getaran tersebut.

Meski getaran dirasakan di beberapa wilayah, BMKG menyampaikan belum menerima laporan mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa hingga waktu pemantauan dilakukan.

Baca Juga:  Gelombang Tinggi Ancam Perairan NTT Hingga 8 Juli, BMKG Minta Aktivitas Laut Disesuaikan dengan Kondisi Cuaca

BMKG juga terus memantau perkembangan aktivitas seismik setelah gempa terjadi. Hingga pukul 17.39 WIB, hasil monitoring menunjukkan belum ada aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.

Kondisi tersebut tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan kesiapsiagaan. BMKG tetap meminta warga menjaga ketenangan serta tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya.

Masyarakat di wilayah terdampak juga diingatkan untuk memperhatikan kondisi bangunan. Jika terdapat rumah atau bangunan yang mengalami retakan maupun kerusakan akibat getaran, masyarakat sebaiknya tidak langsung kembali masuk sebelum memastikan kondisi bangunan aman.

Pemeriksaan bangunan menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan setelah terjadi gempa. Kerusakan yang tampak kecil sekalipun perlu diperhatikan apabila berkaitan dengan bagian struktur yang berperan terhadap kestabilan bangunan.

Baca Juga:  Kebakaran Bromo Kembali Terjadi, Luas Lahan Terbakar Masih Belum Diketahui

Peristiwa gempa di Bantul juga kembali menyoroti keberadaan Sesar Opak. Sesar tersebut menjadi salah satu sumber gempa yang perlu diperhatikan dalam mitigasi bencana di wilayah Yogyakarta.

Kesiapsiagaan menjadi bagian penting karena masyarakat tidak dapat mengetahui secara pasti kapan aktivitas gempa berikutnya terjadi. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai tindakan sebelum, saat, dan setelah gempa perlu terus ditingkatkan.

Gempa M3,5 yang terjadi Kamis sore tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat Bantul, Yogyakarta, dan wilayah sekitarnya untuk tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan. Informasi resmi BMKG menjadi rujukan utama dalam mengikuti perkembangan aktivitas gempa dan potensi dampaknya.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *