Kemensos Siapkan Rp14 Miliar untuk Bantu Penyintas Gempa NTT

Indonesiaku.co – Kementerian Sosial menyiapkan anggaran sebesar Rp14 miliar untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Anggaran tersebut digunakan untuk menyediakan kebutuhan tanggap darurat serta sarana pengungsian bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan pemerintah pusat mengerahkan sumber daya lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan. Upaya tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Koordinasi penanganan dilakukan melalui pembagian tugas di bawah Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Pemerintah melakukan rapat koordinasi secara berkala untuk memastikan setiap kebutuhan di lapangan dapat ditangani sesuai prioritas.

Terdapat tiga fokus utama dalam penanganan gempa NTT. Pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah memprioritaskan penyediaan pangan, tenda, pakaian, dan selimut bagi para penyintas yang berada di lokasi pengungsian.

Baca Juga:  Gempa NTT Tewaskan 103 Orang, Pemerintah Siapkan Sekolah hingga Hunian Sementara

Kedua, pemerintah mempercepat pemulihan jalan dan jembatan yang terdampak tanah longsor. Kondisi infrastruktur tersebut menjadi perhatian karena dapat menghambat akses bantuan menuju sejumlah lokasi terdampak.

Ketiga, pemerintah berupaya memulihkan jaringan listrik dan komunikasi. Infrastruktur tersebut sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat dan koordinasi petugas di lapangan.

Kementerian Sosial menjadi salah satu lembaga yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Anggaran Rp14 miliar yang disiapkan mencakup stok penyangga atau buffer stock logistik dan berbagai kebutuhan untuk lokasi pengungsian.

Bantuan yang disiapkan meliputi makanan anak, tenda keluarga, tenda serbaguna, kasur, selimut, hingga peralatan penerangan darurat. Berbagai kebutuhan tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang harus bertahan di tempat pengungsian.

Selain bantuan logistik, Kemensos mengoperasikan tujuh dapur umum di wilayah terdampak. Dapur umum tersebut berada di Kabupaten Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, dan Ngada.

Baca Juga:  BGN Resmikan 480 SPPG di 16 Provinsi untuk Perluas Layanan MBG

Dapur umum berfungsi menyediakan makanan bagi masyarakat yang berada di lokasi pengungsian. Produksi makanan dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah.

Di Kabupaten Nagekeo, dapur umum mampu memproduksi sekitar 2.000 bungkus makanan per hari. Sementara itu, dapur umum di Kabupaten Sikka menghasilkan sekitar 4.500 bungkus per hari. Di Kabupaten Manggarai, produksi mencapai sekitar 3.000 bungkus makanan per hari.

Selain pemenuhan kebutuhan makanan, pemerintah juga memperhatikan kondisi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau. NTT memiliki kondisi geografis yang terdiri atas banyak pulau sehingga pendistribusian bantuan memerlukan strategi khusus.

Agus menyebut terdapat tiga kelompok pengungsi yang menjadi sasaran penanganan. Mereka terdiri atas penyintas yang berada di posko terpusat, pengungsi mandiri, dan masyarakat yang berada di kawasan terluar.

Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian. Wilayah tersebut mengalami dampak signifikan dan memiliki jarak yang cukup jauh dari pusat pemerintahan.

Baca Juga:  Tak Ingin Persiapan Terburu-buru, Pemerintah Mulai Pembinaan Atlet Menuju Olimpiade 2028

Untuk menjangkau masyarakat di wilayah tersebut, Kemensos bersama BNPB mengerahkan helikopter dan kapal feri. Penggunaan berbagai moda transportasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pengiriman logistik tanggap darurat.

Pemerintah juga mengirimkan tim psikososial Kemensos ke NTT. Tim tersebut bertugas memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat yang mengalami dampak akibat bencana.

Penanganan gempa tidak hanya dilakukan dengan memenuhi kebutuhan makanan dan tempat tinggal sementara. Pemerintah juga berupaya mengembalikan akses infrastruktur dan layanan dasar agar masyarakat dapat menjalani proses pemulihan secara bertahap.

Dengan dukungan anggaran, dapur umum, tim gabungan, serta distribusi logistik ke wilayah terpencil, pemerintah berupaya memastikan penyintas gempa memperoleh kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *