Indonesiaku.co – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Wajo menjadi salah satu sekolah di Sulawesi Selatan yang masih menghadapi kendala pembangunan fasilitas.
Kondisi tersebut berdampak terhadap kegiatan belajar mengajar siswa baru tahun ajaran 2026–2027. Untuk sementara, proses pembelajaran dilakukan secara daring sembari menunggu pembangunan gedung sekolah selesai.
SRT Wajo merupakan salah satu dari tiga Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan yang belum melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS. Dua sekolah lainnya adalah SRT Soppeng dan SRT Sinjai.
Kepala Dinas Sosial Sulsel Malik Faisal mengatakan ketiga sekolah tersebut direncanakan melaksanakan MPLS pada Agustus. Sekolah yang belum melakukan MPLS masih harus menyesuaikan jadwal dengan perkembangan pembangunan dan kesiapan fasilitas.
Berbeda dengan SRT Wajo, sejumlah Sekolah Rakyat lainnya telah melaksanakan MPLS. Sekolah tersebut meliputi SRT Barru, SRT Sidrap, SRT Tana Toraja, SRT Bone, SRT Takalar, dan SRT Makassar.
Dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat, siswa tidak hanya menjalani pembelajaran, tetapi juga tinggal di lingkungan asrama. Karena itu, keberadaan fasilitas dasar menjadi salah satu syarat penting agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara optimal.
Salah satu persoalan yang dihadapi SRT Wajo adalah pembangunan gedung yang belum selesai sepenuhnya. Kondisi tersebut membuat pembelajaran belum dapat dilakukan secara normal di lingkungan sekolah.
Untuk menjaga keberlangsungan proses pendidikan, sekolah memilih melaksanakan pembelajaran secara daring. Sistem tersebut diterapkan sementara sampai pembangunan fasilitas sekolah mencapai kondisi yang memungkinkan digunakan untuk kegiatan belajar dan tinggal.
Selain pembangunan gedung, persoalan air bersih juga menjadi perhatian. Sekolah berasrama membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan siswa, terutama ketika seluruh peserta didik nantinya tinggal di lingkungan sekolah.
Kepala SRT Wajo Asri mengatakan pihak sekolah terus berkoordinasi dengan PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Upaya tersebut dilakukan karena siswa diharapkan segera dapat mengikuti kegiatan sekolah sekaligus tinggal di asrama.
Kondisi musim kemarau menjadi salah satu faktor yang membuat pemenuhan kebutuhan air tidak mudah. Selain itu, kontur tanah di lokasi pembangunan SRT Wajo turut memengaruhi ketersediaan sumber air.
Persoalan fasilitas tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Pemerintah daerah bersama pihak sekolah perlu memastikan bahwa fasilitas dasar tersedia sebelum siswa menjalani kegiatan secara penuh.
Di SRT Sinjai, misalnya, pihak sekolah juga sempat memulangkan siswa setelah penyambutan siswa baru dilakukan secara simbolis pada 13 Juni. Keputusan tersebut diambil karena pembangunan sekolah masih berlangsung dan lingkungan sekolah dinilai belum sepenuhnya aman untuk ditempati.
SRT Sinjai kemudian merencanakan pembelajaran tatap muka mulai 15 Agustus setelah mengevaluasi perkembangan pembangunan. Beberapa fasilitas utama, seperti asrama dan gedung belajar, sudah dinilai dapat difungsikan meski tidak seluruh bangunan selesai.
Sementara itu, SRT Soppeng juga termasuk sekolah yang masih menunggu pelaksanaan MPLS. Pemerintah daerah menyebut kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada Agustus.
Pembangunan yang belum sepenuhnya selesai tidak hanya berpengaruh terhadap jadwal MPLS, tetapi juga terhadap kesiapan sekolah menjalankan pembelajaran dan kehidupan asrama. Karena itu, penyelesaian sarana dan prasarana menjadi bagian penting dalam memastikan program Sekolah Rakyat dapat berjalan sesuai tujuan.
Pemerintah daerah terus melakukan koordinasi agar berbagai kendala tersebut dapat segera ditangani. Ketersediaan ruang belajar, asrama, air bersih, serta fasilitas pendukung lainnya diharapkan dapat terpenuhi sehingga siswa dapat menjalani pendidikan dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan layak.***