Tersisa Dua Titik Api, BNPB Harap Hujan 14-16 Agustus Bantu Padamkan Karhutla Bromo

Indonesiaku.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berharap potensi hujan yang diperkirakan terjadi pada 14-16 Agustus 2026 dapat membantu proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan saat ini masih terdapat dua titik api yang belum berhasil dipadamkan. Jumlah tersebut menurun dari sebelumnya yang mencapai 34 titik api.

BNPB menargetkan dua titik api yang tersisa dapat dipadamkan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Target tersebut disampaikan Suharyanto saat meninjau penanganan karhutla di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Selasa.

“Dari total 34 titik api sebelumnya, kini masih tersisa dua titik api yang belum padam. Kami upayakan dua titik api itu sudah selesai dipadamkan pada Jumat (14/8),” kata Suharyanto.

Baca Juga:  Pemprov DKI Siagakan 367 Fasilitas Kesehatan untuk Antisipasi Dampak Asap Karhutla dan ISPA

Dalam penanganan karhutla, BNPB menyiagakan tiga unit water bombing. Keberadaan dukungan pemadaman dari udara tersebut menjadi penting karena sejumlah lokasi kebakaran berada di medan yang sulit dijangkau pasukan darat.

Suharyanto menyebut titik api berada di kawasan dengan kemiringan medan hingga 80 derajat. Kondisi tersebut membuat petugas darat tidak dapat memaksakan diri menuju lokasi karena faktor keselamatan.

Selain medan yang ekstrem, ketersediaan sumber air juga menjadi kendala. Kawasan savana TNBTS memiliki sumber air yang terbatas sehingga petugas harus mengambil air dari Ranu Pani di Kabupaten Lumajang.

Sementara itu, operasi modifikasi cuaca belum dapat dilakukan. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), belum terdapat potensi awan hujan yang dapat mendukung pelaksanaan operasi tersebut.

Baca Juga:  Sekitar 2.000 Warga Terdampak Kebakaran Dusun Serdang, Data Kerusakan Masih Didata BPBD

Meski demikian, BMKG memperkirakan terdapat potensi awan hujan pada 14-16 Agustus 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat memberikan bantuan alami terhadap proses pemadaman apabila hujan benar-benar turun di kawasan TNBTS.

Hujan yang membasahi wilayah terdampak kebakaran dapat membantu mengurangi kondisi kering pada vegetasi serta membuat proses pemadaman menjadi lebih efektif. Namun, penanganan oleh petugas tetap dilakukan untuk memastikan titik api dapat dikendalikan.

Suharyanto menyebut luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 889 hektare. Area tersebut tersebar di Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.

Tiga unit water bombing tetap disiagakan untuk mendukung operasi. Apabila dua titik api yang tersisa berhasil dipadamkan, dua unit nantinya dapat dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan penanganan karhutla. Satu unit lainnya akan tetap berada di Bromo hingga seluruh titik api padam.

Baca Juga:  Prabowo Soroti Hotspot Way Kambas, Perlindungan Gajah Sumatera Jadi Perhatian

Penanganan karhutla di kawasan TNBTS membutuhkan koordinasi berbagai pihak karena lokasi terdampak berada di kawasan dengan kondisi geografis dan akses yang tidak mudah. Faktor keselamatan petugas juga menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pemadaman.

BNPB terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi di lapangan. Selain memadamkan titik api yang masih aktif, petugas juga perlu memastikan area yang telah ditangani tidak kembali terbakar.

Dengan tersisanya dua titik api, proses penanganan kini memasuki tahap akhir. BNPB berharap target pemadaman dapat tercapai pada Jumat dan kondisi cuaca pada pertengahan Agustus dapat membantu mempercepat proses pemulihan kawasan terdampak karhutla.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *