Indonesiaku.co – Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali bertambah pada awal Juli 2026. Kali ini, Bupati Langkat Syah Afandin menjadi pihak yang diamankan dalam operasi yang dikonfirmasi oleh Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto.
Penangkapan tersebut menandai operasi tangkap tangan ke-15 yang dilakukan KPK sepanjang tahun 2026. Dengan bertambahnya jumlah tersebut, kepala daerah masih menjadi kelompok pejabat publik yang paling banyak tersangkut dalam operasi penindakan lembaga antirasuah selama tahun ini.
Seperti prosedur yang berlaku, KPK memiliki waktu maksimal 24 jam untuk menentukan status hukum pihak yang diamankan. Dalam kurun waktu tersebut, penyidik melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pihak yang ditangkap, mendalami barang bukti, serta mengklarifikasi dugaan tindak pidana yang sedang diusut.
Kasus yang menjerat Syah Afandin hingga kini belum dipublikasikan secara rinci. KPK baru akan menyampaikan perkembangan perkara setelah pemeriksaan awal selesai dilakukan.
Sejak awal tahun, intensitas OTT KPK tergolong tinggi. Januari dibuka dengan pengungkapan dugaan suap pemeriksaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara yang melibatkan delapan orang.
Masih pada bulan yang sama, KPK kemudian melakukan OTT terhadap Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo. Kedua operasi tersebut memperlihatkan bahwa perhatian KPK tidak hanya tertuju pada sektor perpajakan, tetapi juga pemerintahan daerah.
Pada Februari, operasi tangkap tangan berlanjut dengan penangkapan Kepala KPP Madya Banjarmasin. Selanjutnya, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Rizal yang menjabat Kepala Kanwil Bea Cukai Sumatera Bagian Barat juga diamankan.
Di bulan yang sama, Ketua Pengadilan Negeri Depok I Wayan Eka Mariarta bersama Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan turut ditangkap dalam OTT yang dilakukan KPK.
Memasuki Maret, tiga kepala daerah kembali diamankan secara terpisah, yakni Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari, dan Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman.
Selanjutnya pada April, KPK menangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo. Sementara Mei menjadi satu-satunya bulan pada 2026 yang tidak diwarnai operasi tangkap tangan.
Juni kembali menjadi bulan dengan sejumlah penindakan penting. Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim menyerahkan diri setelah adanya OTT. Selain itu, Bupati Muara Enim Edison dan seorang ASN Badan Pemeriksa Keuangan RI juga diamankan.
Menjelang akhir Juni, Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby turut menyerahkan diri kepada penyidik KPK setelah dilakukan operasi tangkap tangan.
Kini, memasuki Juli, daftar tersebut bertambah dengan ditangkapnya Syah Afandin. Penangkapan itu memperlihatkan bahwa penindakan terhadap dugaan korupsi tetap berlangsung secara berkesinambungan.
Publik kini menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan KPK. Penjelasan resmi mengenai kronologi, dugaan tindak pidana, barang bukti, serta pihak lain yang diduga terlibat diperkirakan akan disampaikan setelah penyidik menyelesaikan pemeriksaan awal sesuai ketentuan KUHAP.***