Indonesiaku.co – Pemerintah merancang dua program andalan untuk mengikis ketimpangan akses energi listrik di berbagai daerah tertinggal dan kepulauan.
Langkah ini diambil guna mengatasi persoalan sekitar 11.000 desa dan dusun di seluruh Indonesia yang belum terjangkau listrik memadai.
Program pertama yang disiapkan adalah Program Listrik Desa atau yang dikenal luas dengan sebutan Lisdes.
Program Lisdes berfokus pada pembangunan serta perluasan jaringan infrastruktur kelistrikan menuju wilayah pelosok yang belum terhubung grid PLN.
Melalui Lisdes, pemukiman yang berada di kawasan terisolasi akan mendapatkan akses jaringan penerangan secara permanen.
Sementara itu, program kedua yang dijalankan secara bersinergi adalah Program Bantuan Pasang Baru Listrik atau BPBL.
Program BPBL menyasar langsung masyarakat kurang mampu dengan memberikan bantuan sambungan listrik secara gratis ke rumah-rumah warga.
Sinergi kedua program ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan pasokan listrik baik dari sisi jaringan maupun keterjangkauan ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan program ini berjalan bertahap dan berkesinambungan.
Target penanganan desa berlistrik dipastikan akan terus dinaikkan oleh pemerintah pada setiap tahun anggaran.
Pada tahun 2025 mendatang, sasaran penanganan difokuskan pada sekitar 1.400 desa yang tersebar di berbagai provinsi.
Jumlah sasaran tersebut akan ditingkatkan secara signifikan pada tahun 2026 dan 2027 mendatang.
PT PLN (Persero) bersama pemerintah daerah diminta untuk terus memperkuat koordinasi teknis di lapangan.
Pemerintah yakin bahwa pendekatan ganda ini mampu mempercepat pencapaian rasio elektrifikasi nasional hingga 100 persen.***