Indonesiaku.co – Upaya mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan melalui berbagai strategi.
Salah satunya adalah operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice atau es kering yang diterapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sejumlah wilayah terdampak.
Di Sumatera Selatan, hasil sementara operasi tersebut menunjukkan peningkatan jarak pandang yang cukup besar. Kondisi yang sebelumnya hanya memungkinkan jarak pandang sekitar 300 meter pada pukul 09.00 WIB dilaporkan meningkat menjadi 2.800 meter pada sore hari.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam upaya mengurangi gangguan kabut asap. Jarak pandang yang rendah dapat menghambat aktivitas masyarakat dan mengganggu transportasi, terutama penerbangan yang membutuhkan kondisi visibilitas memadai.
BNPB menjelaskan bahwa penyemaian dry ice tidak ditujukan untuk memadamkan api secara langsung. Teknologi ini digunakan untuk membantu mengurai kabut asap pekat yang berada di lapisan bawah atmosfer. Adapun pemadaman titik api tetap dilakukan oleh satuan tugas darat yang bekerja langsung di lokasi kebakaran.
Dalam pelaksanaannya, dry ice disemai dari udara pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki, yakni di bawah lapisan asap. Penyemaian tersebut dirancang untuk membantu mendinginkan dan menceraiberaikan partikel asap sehingga kepadatannya dapat berkurang.
Mekanisme ini diharapkan membantu sinar matahari menembus permukaan bumi dan mendorong asap dari lapisan bawah naik ke atmosfer yang lebih tinggi. Dengan demikian, jarak pandang dapat membaik dan risiko gangguan terhadap aktivitas penerbangan bisa berkurang.
Operasi di Sumatera Selatan dilakukan melalui enam sorti penerbangan. Wilayah yang menjadi sasaran mencakup sekitar Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, petugas menyebarkan sekitar 4.000 kilogram dry ice serta 800 kilogram natrium klorida atau NaCl.
Penggunaan dua jenis bahan semai tersebut merupakan bagian dari strategi modifikasi cuaca yang disesuaikan dengan kondisi atmosfer. Penyemaian NaCl dapat dilakukan ketika terdapat pertumbuhan bibit awan potensial yang dapat mendukung operasi modifikasi cuaca dan pengeboman air.
Selain Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah juga menjadi wilayah sasaran operasi. BNPB melaporkan sebanyak 13 sorti operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice dan garam telah dilakukan di provinsi tersebut. Sembilan sorti di antaranya menyebarkan sekitar 4.400 kilogram dry ice dan 3.800 kilogram garam.
Operasi ini juga diharapkan membantu mengurangi risiko paparan polusi udara bagi masyarakat. Kabut asap yang berasal dari karhutla dapat membawa partikel pencemar yang berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya pernapasan.
Meski hasil sementara di Sumatera Selatan memperlihatkan peningkatan jarak pandang, penanganan karhutla tetap memerlukan upaya menyeluruh. Penguraian asap tidak sama dengan pemadaman sumber kebakaran. Karena itu, kerja tim darat dalam mengendalikan titik api tetap menjadi bagian utama penanganan.
Ke depan, efektivitas operasi perlu terus dipantau berdasarkan kondisi cuaca, tingkat kepadatan asap, dan perkembangan kebakaran. Dengan koordinasi antara tim darat dan udara, upaya penanganan diharapkan dapat menekan dampak karhutla terhadap masyarakat dan aktivitas transportasi.***