Konflik Yaman Kembali Memanas, Serangan ke Istana Kepresidenan Jadi Sorotan di Tengah Gagalnya Gencatan Senjata

Indonesiaku.co – Konflik berkepanjangan di Yaman kembali menjadi perhatian setelah serangan rudal balistik menghantam Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara negara tersebut, pada Kamis (15/10). Serangan itu menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya, menurut keterangan Menteri Kesehatan Yaman Qassem Buhaibeh.

Insiden tersebut terjadi ketika ketegangan antara kelompok Houthi dan pemerintahan Yaman yang diakui komunitas internasional kembali meningkat sejak Juli lalu. Eskalasi permusuhan berlangsung setelah upaya gencatan senjata yang disepakati pada 2022 gagal diwujudkan.

Seorang sumber pemerintah setempat mengatakan serangan terhadap istana kepresidenan melibatkan lima rudal balistik. Beberapa anggota pemerintahan dilaporkan berada di dalam kompleks ketika serangan berlangsung. Meski demikian, Kementerian Penerangan Yaman memastikan Perdana Menteri Shaya al-Zindani dan anggota pemerintahan lainnya dalam kondisi aman.

Baca Juga:  Serangan Balasan Iran ke Pangkalan AS di Yordania Picu Eskalasi Baru Konflik

Buhaibeh menyebut korban meninggal dunia terdiri atas petugas keamanan dan pegawai sipil yang bekerja di istana kepresidenan. Ia juga menggambarkan serangan tersebut sebagai pengulangan atas serangan terhadap Pemerintah Yaman di Bandara Aden pada Desember 2020.

Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan asap membumbung dari kawasan Istana Al-Maashiq. Rumah-rumah warga sipil di sekitar kompleks istana juga dilaporkan terkena dampak serangan. Selain itu, kantor berita Saba melaporkan kelompok Houthi menyerang permukiman warga di Kota Marib dengan sejumlah rudal balistik.

Kelompok Houthi mengonfirmasi serangan terhadap istana melalui Al-Masirah TV. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan pihaknya menyerang lokasi yang disebut sebagai markas operasi perang Arab Saudi di Aden. Ia juga menegaskan bahwa kelompoknya menganggap keberadaan militer Arab Saudi sebagai sasaran yang sah.

Baca Juga:  Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Produktif, tetapi Pentagon Tetap Bersiap Hadapi Kemungkinan Perang

Untuk memahami situasi saat ini, konflik Yaman memiliki latar belakang panjang. Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Peristiwa tersebut memaksa pemerintahan Yaman meninggalkan ibu kota, sementara Aden kemudian menjadi pusat pemerintahan sementara.

Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Sejak itu, konflik melibatkan berbagai pihak dan terus menimbulkan persoalan keamanan serta dampak bagi masyarakat.

Kesepakatan gencatan senjata pada 2022 sempat menjadi bagian dari upaya meredakan permusuhan. Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam laporan mengenai serangan terbaru, upaya tersebut gagal diwujudkan dan konflik kembali meningkat sejak Juli.

Serangan terhadap istana kepresidenan menjadi salah satu insiden yang menonjol dalam eskalasi terbaru karena menyasar lokasi penting pemerintahan. Meski para pejabat utama dilaporkan selamat, jatuhnya korban dari kalangan petugas keamanan dan pegawai sipil menunjukkan bahwa risiko tetap tinggi.

Baca Juga:  Operasi Pasukan Multinasional di Haiti Berujung Serangan Geng dan Menewaskan Sekitar 12 Orang

Pemerintah Yaman menyatakan akan terus menjalankan kewajibannya kepada masyarakat. Sementara itu, serangan terbaru kembali memperlihatkan sulitnya menjaga stabilitas di tengah konflik yang belum menemukan penyelesaian.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *