Warga RW 04 Merjosari Belajar Olah Ubi Jalar Ungu Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Indonesiaku.co – Ubi jalar ungu menjadi salah satu bahan pangan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Potensi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Institut Pertanian Malang yang berlangsung di RW 04 Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Malang.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Hilirisasi Produk Antosianin Ubi Jalar Ungu melalui Pembuatan Makanan Fungsional dan Pelatihan Kewirausahaan Masyarakat RW 04 Kelurahan Merjosari”. Program dirancang untuk menggabungkan edukasi mengenai pangan fungsional, praktik pengolahan makanan, serta pengenalan dasar-dasar kewirausahaan.

Tim PKM dipimpin oleh Dr. Ir. Siti Farida, M.P. dan melibatkan dua anggota dosen, yakni Dra. Nunuk Hariyani, M.Si. serta Siti Nurul Afifah, S.Si., M.Si. Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Malang, turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan kandungan antosianin pada ubi jalar ungu. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberikan warna ungu pada ubi. Senyawa tersebut juga memiliki aktivitas antioksidan sehingga menjadi salah satu komponen yang menarik untuk dikembangkan dalam pemanfaatan pangan.

Baca Juga:  Perkuat Budaya Peduli Lingkungan, Guru dan Siswa SMP Almaarif 01 Singosari Dilatih Membuat Sabun Cair Berbahan Aloe Vera

Edukasi diberikan dengan membahas karakteristik antosianin, potensi pemanfaatannya sebagai bagian dari bahan pangan, hingga peluang pengembangan produk berbasis ubi jalar ungu. Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan praktik.

Masyarakat diajak melihat secara langsung proses pengolahan ubi jalar ungu menjadi produk makanan fungsional. Praktik ini bertujuan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan secara langsung.

Kegiatan berlangsung dengan pendekatan partisipatif. Peserta terlibat dalam demonstrasi, praktik pengolahan, serta diskusi. Mereka juga dapat menyampaikan pengalaman maupun kendala yang dihadapi dalam mengolah bahan pangan dan mengembangkan produk.

Peserta PKK RW 04 yang diketuai Ibu Kasiyani menunjukkan antusiasme selama kegiatan. Sesi praktik menjadi salah satu bagian yang mendapatkan perhatian karena peserta dapat mencoba secara langsung pengolahan bahan pangan lokal tersebut.

Baca Juga:  Teknologi Kaca Berketebalan Variabel Disorot Usai Muncul Laporan soal Layar iPhone Duo

Selain pengolahan makanan, tim PKM memberikan materi mengenai kewirausahaan. Masyarakat diperkenalkan dengan cara melihat peluang pasar dan menentukan calon konsumen. Pengetahuan mengenai pengemasan, pelabelan, branding, penetapan harga, dan pemasaran juga diberikan sebagai bagian dari pengembangan produk.

Keterampilan tersebut dinilai penting agar produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan. Masyarakat diharapkan mampu mengembangkan produk secara mandiri sehingga dapat menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketua tim pelaksana menekankan pentingnya hilirisasi inovasi pangan. Menurutnya, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan suatu produk. Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan harus dapat diterapkan masyarakat dan memiliki peluang untuk memberikan nilai ekonomi.

Pemanfaatan ubi jalar ungu juga menjadi contoh bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan melalui pendekatan teknologi pangan. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan atau dikonsumsi sebagai bahan segar dapat diolah menjadi bentuk yang lebih beragam.

Baca Juga:  Honor X9e Pro Resmi Hadir dengan Layar AMOLED 120Hz dan Snapdragon 6 Gen 5

Dalam jangka panjang, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya produk pangan fungsional khas masyarakat RW 04 Kelurahan Merjosari. Produk tersebut dapat dikembangkan dengan identitas, kemasan, dan strategi pemasaran yang lebih kompetitif.

Program PKM Institut Pertanian Malang tersebut menjadi bagian dari upaya kampus dalam menerapkan ilmu dan teknologi kepada masyarakat. Melalui kerja sama antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat, potensi ubi jalar ungu diharapkan dapat memberikan manfaat dalam bidang pengetahuan, keterampilan, sekaligus peluang ekonomi.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *