Indonesiaku.co – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan 367 fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan pernapasan masyarakat di tengah pemantauan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kesiapsiagaan tersebut dilakukan setelah asap dari wilayah Sumatera dan Kalimantan terdeteksi melintas di atmosfer atas Jakarta dan kawasan sekitarnya.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, menjelaskan bahwa Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan kesiapsiagaan penuh fasilitas kesehatan. Langkah ini ditujukan untuk memastikan pelayanan medis siap menghadapi potensi peningkatan keluhan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Total 367 fasilitas kesehatan yang disiagakan terdiri atas 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu. Kesiapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi risiko kesehatan yang berkaitan dengan kondisi udara.
Sebelumnya, pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui citra satelit Himawari menunjukkan indikasi sebaran asap karhutla dari Sumatera dan Kalimantan melintas di lapisan atmosfer tinggi di atas Jakarta dan Jabodetabek pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Chico, sebaran asap tersebut mulai berkurang sejak Jumat karena perubahan arah angin. Pemantauan terkini juga menunjukkan bahwa asap mulai bergerak menjauh dari Jawa bagian barat, termasuk wilayah Jabodetabek.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah daerah mengurangi kewaspadaan. Arah angin dapat berubah sehingga pergerakan asap perlu terus dipantau. Selain itu, kualitas udara Jakarta tidak hanya dipengaruhi oleh asap kiriman dari wilayah lain.
Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan kondisi musim kemarau turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi pencemaran udara. Karena itu, berkurangnya sebaran asap karhutla belum tentu berarti seluruh persoalan kualitas udara di ibu kota telah teratasi.
Chico menyebutkan bahwa beberapa titik pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta masih menunjukkan kategori sedang hingga tidak sehat. Parameter yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yakni partikulat halus yang dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Keberadaan partikel halus tersebut menjadi alasan penting untuk terus memperhatikan kondisi udara, terutama bagi masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan dapat memerlukan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Kendati demikian, deteksi asap di atmosfer atas tidak secara otomatis membuktikan adanya dampak langsung terhadap kualitas udara di permukaan. Penilaian kondisi yang dihirup masyarakat tetap perlu mengacu pada hasil pengukuran kualitas udara di permukaan.
Dengan menyiagakan ratusan fasilitas kesehatan, Pemprov DKI berupaya memastikan masyarakat dapat memperoleh penanganan apabila mengalami gangguan pernapasan. Pemerintah juga terus memantau pergerakan asap dan kondisi pencemaran udara agar langkah antisipasi dapat disesuaikan dengan perkembangan di lapangan.***