Wabah Ebola di DRC Berlangsung Empat Bulan, WHO Soroti Perkembangan di Tiap Wilayah

Indonesiaku.co – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah berlangsung selama empat bulan dengan perkembangan kasus yang berbeda di setiap wilayah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya tanda-tanda penurunan penularan di Ituri, sementara beberapa wilayah lain masih menghadapi peningkatan kasus.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penularan di Ituri, salah satu wilayah yang paling terdampak, mulai menurun. Perkembangan tersebut menjadi salah satu tanda positif yang terlihat dalam upaya penanganan wabah.

Tedros menyampaikan informasi tersebut kepada wartawan di Jenewa pada Rabu (16/9). Ia mengatakan WHO mulai melihat perkembangan yang menggembirakan dalam respons terhadap Ebola.

Selain penurunan penularan di Ituri, Provinsi Kivu Selatan juga menunjukkan perkembangan positif. Wilayah tersebut tidak melaporkan kasus baru sejak Mei. Lebih dari 1.700 orang telah pulih dari penyakit tersebut.

Baca Juga:  Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan, Iran Tetapkan Syarat Sebelum Jalur Pelayaran Dibuka

Namun, perkembangan positif tersebut belum terjadi secara merata. Di Kivu Utara, jumlah infeksi mingguan justru meningkat pesat dalam dua pekan terakhir. Kasus mingguan yang sebelumnya sekitar 100 meningkat menjadi lebih dari 200 kasus.

Data tersebut menjadi perhatian karena wabah masih berlangsung di sejumlah wilayah DRC. Secara keseluruhan, lebih dari 7.200 kasus dan lebih dari 3.500 kematian telah dilaporkan di tujuh provinsi.

Ituri masih menjadi salah satu daerah dengan beban kasus yang tinggi. Sekitar 300 kasus baru dan 160 kematian tercatat dalam satu pekan terakhir. Jumlah kasus tersebut hampir separuh dari total kasus nasional.

Menurut Tedros, wabah secara keseluruhan masih sebagian besar terbatas di wilayah timur laut DRC. Selain itu, terdapat wabah kecil di Uganda yang menurutnya dapat dihentikan dengan cepat.

Baca Juga:  Konflik Yaman Kembali Memanas, Serangan ke Istana Kepresidenan Jadi Sorotan di Tengah Gagalnya Gencatan Senjata

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan wabah tidak seragam di seluruh wilayah. Ketika beberapa daerah mulai menunjukkan penurunan, daerah lainnya masih menghadapi peningkatan infeksi.

Tedros mengatakan indikator utama dalam penanganan wabah belum membaik sebagaimana yang diharapkan. Karena itu, respons terhadap Ebola masih harus dipertahankan dan diperkuat.

“Indikator utama belum membaik sebagaimana mestinya,” kata Tedros.

Ia memperingatkan bahwa upaya penanganan harus terus dilakukan selama berbulan-bulan ke depan. Penguatan respons diperlukan untuk menghadapi kemungkinan perkembangan kasus yang masih berlangsung.

Penanganan wabah juga perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah. Ituri mencatat penurunan penularan meskipun jumlah kasus dan kematian dalam satu pekan masih tinggi. Kivu Selatan tidak melaporkan kasus baru sejak Mei, sedangkan Kivu Utara mengalami peningkatan infeksi mingguan.

Baca Juga:  Serangan Balasan Iran ke Pangkalan AS di Yordania Picu Eskalasi Baru Konflik

Lebih dari 1.700 orang yang telah pulih di Kivu Selatan menjadi salah satu perkembangan yang dicatat WHO. Namun, jumlah keseluruhan kasus dan kematian di tujuh provinsi menunjukkan bahwa wabah masih menjadi persoalan kesehatan yang serius.

WHO terus memantau perkembangan wabah tersebut. Tedros menegaskan bahwa adanya tanda-tanda kemajuan di beberapa wilayah belum berarti respons dapat dikurangi.

Dengan wabah yang masih berlangsung selama empat bulan, WHO meminta upaya penanganan terus diperkuat. Pemantauan terhadap kasus baru dan perkembangan di setiap wilayah menjadi bagian penting untuk melihat arah wabah selanjutnya.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *