BNPB Catat 19 Titik Api di Kalbar, Lebih dari 180 Hektare Berhasil Dipadamkan

Indonesiaku.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Pada 14 September 2026, sebanyak 19 titik api ditemukan di sejumlah wilayah provinsi tersebut.

Dari titik api yang terpantau, estimasi luas area yang terbakar mencapai lebih dari 261 hektare. Tim gabungan kemudian melakukan pemadaman melalui Satgas darat dan Satgas udara menggunakan metode water bombing.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, lebih dari 180 hektare area berhasil dipadamkan. Rinciannya, Satgas darat memadamkan lebih dari 175 hektare, sedangkan Satgas udara memadamkan lebih dari 5 hektare.

“Sehingga ada sejumlah 80 hektare lebih yang belum dipadamkan hari ini, Selasa 15 September 2026,” ujar Berton dalam konferensi pers daring di Jakarta, Selasa.

Baca Juga:  BNPB Integrasikan Data Hotspot, Pemantauan Udara, dan Informasi Cuaca untuk Atasi Karhutla

Data tersebut menunjukkan bahwa upaya pemadaman masih terus berlangsung. Area yang belum padam menjadi perhatian karena berpotensi menambah luas kebakaran apabila kondisi cuaca mendukung penyebaran api.

Secara keseluruhan, BNPB mencatat total luas area terdampak karhutla di Kalimantan Barat telah mencapai 48.535,73 hektare per September 2026. Angka itu diperoleh dari sinkronisasi data pantauan satelit SiPongi per 31 Juli 2028 dan pengukuran langsung tim BNPB di lapangan.

Berton menjelaskan, data pantauan satelit mencatat lahan terbakar lebih dari 38.310 hektare. Sementara itu, hasil pengukuran langsung di lapangan mencapai lebih dari 10.224 hektare. Kedua data tersebut kemudian disinkronkan sehingga menghasilkan total 48.535,73 hektare.

Pemerintah telah mengerahkan 14.759 personel Satgas darat untuk menangani karhutla. Kekuatan tersebut diperkuat dengan dukungan Satgas udara yang mengoperasikan lima unit helikopter patroli atau teknologi modifikasi cuaca (OMC) dan sembilan helikopter pemadam.

Baca Juga:  Jarak Pandang Turun akibat Kabut Asap, Sejumlah Pesawat di Palembang Dialihkan dan Kembali ke Bandara Asal

Selain dukungan dalam negeri, pemerintah Jepang juga telah mengirimkan bantuan unit helikopter ke Kalimantan Barat. Namun, helikopter tersebut belum dapat digunakan karena jarak pandang atau visibility masih sangat rendah.

Pihak Jepang akan mengoperasikan helikopter ketika jarak pandang mencapai 3.500 hingga 5.000 meter. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pelaksanaan operasi udara.

Kabut asap akibat karhutla juga berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Mempawah, Pontianak, Melawi, Sambas, hingga Ketapang dilaporkan mengalami kualitas udara dalam kategori berbahaya.

Selain itu, jarak pandang di beberapa wilayah turun hingga di bawah 1 kilometer. Kondisi ini dapat menghambat aktivitas masyarakat dan mengganggu pelaksanaan operasi udara.

Baca Juga:  10.700 Personel Dikerahkan, Presiden Perkuat Operasi Karhutla Kalteng dengan Empat Helikopter

BNPB juga memantau perkembangan cuaca di sejumlah daerah. Hujan ringan hingga lebat dilaporkan terjadi di sebagian wilayah Sambas, Sintang, Bengkayang, Kota Singkawang, dan Sekadau. Perkembangan cuaca tersebut menjadi bagian dari pemantauan dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.***

Add a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *