Indonesiaku.co – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, menjadi perhatian pemerintah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan proses penyelidikan penyebab kebakaran akan diserahkan kepada aparat penegak hukum.
Pemerintah belum menyimpulkan secara pasti apakah kebakaran tersebut disebabkan oleh kesengajaan. Namun, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebelumnya menyampaikan dugaan bahwa aktivitas manusia menjadi salah satu faktor pemicu munculnya api.
Dugaan tersebut didasarkan pada temuan titik awal kebakaran di kawasan Blok Bantengan. Di sekitar lokasi tersebut terdapat jalur tradisional yang menjadi jalan tembusan antara Desa Arjosari dan Ranu Pani.
Menurut pihak TNBTS, kondisi tersebut memungkinkan adanya aktivitas masyarakat di sekitar kawasan. Salah satu dugaan yang menjadi perhatian adalah kegiatan membuat perapian untuk menghangatkan tubuh saat cuaca dingin.
Api yang digunakan untuk membuat perapian dapat menjadi sumber bahaya apabila tidak dipadamkan secara benar. Terlebih, kondisi kawasan yang mengalami musim kemarau dapat membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir mengenai penyebab kebakaran. Pemerintah menyerahkan proses pembuktian kepada aparat penegak hukum.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pihak yang terbukti melakukan aktivitas terlarang hingga menyebabkan kebakaran akan mendapatkan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
“(Penyelidikan) kami serahkan kepada penegak hukum,” kata Raja Juli ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki komitmen untuk menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Di tengah proses penyelidikan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kawasan hutan. Penggunaan api menjadi salah satu hal yang perlu dihindari, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Raja Juli bahkan kembali memberikan peringatan secara langsung kepada masyarakat agar tidak menggunakan api secara sembarangan.
“Sekali lagi mohon tidak bermain api,” ujarnya.
Selain dugaan aktivitas manusia, faktor cuaca turut menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran Gunung Bromo. Raja Juli mengatakan fenomena El Nino memberikan dampak terhadap musim kemarau yang lebih kering.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran karena tumbuhan dan material kering di kawasan hutan lebih mudah terbakar. Oleh sebab itu, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memunculkan sumber api.
Penanganan kebakaran juga terus dilakukan oleh petugas. Saat berada di Gunung Bromo, Raja Juli meninjau langsung upaya pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing.
Teknik tersebut menjadi salah satu metode yang digunakan untuk menjangkau area kebakaran yang sulit ditangani secara langsung dari darat. Air dijatuhkan dari helikopter ke titik atau area yang masih mengalami kebakaran untuk membantu mengurangi intensitas api.
Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Probolinggo.
Pemerintah kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus, yakni memastikan api dapat dikendalikan dan mencari tahu penyebab kebakaran secara menyeluruh. Penyelidikan aparat penegak hukum diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai asal mula kebakaran dan kemungkinan adanya pelanggaran.
Sementara itu, masyarakat di sekitar kawasan Bromo diimbau ikut menjaga kawasan hutan dengan tidak menyalakan api sembarangan. Pencegahan dinilai penting karena kondisi kemarau kering dapat membuat api berkembang dengan cepat.
Kebakaran Gunung Bromo menjadi pengingat bahwa aktivitas sederhana seperti membuat perapian di kawasan hutan memiliki risiko besar apabila tidak disertai kewaspadaan. Pemerintah pun meminta seluruh pihak turut menjaga kawasan konservasi agar tetap aman dari ancaman kebakaran.***