Indonesiaku.co – Hubungan Inggris dan Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik setelah Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, menyatakan kesiapannya mengkritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump apabila hal tersebut diperlukan demi melindungi kepentingan nasional Inggris.
Pernyataan Burnham disampaikan dalam wawancara bersama BBC setelah muncul laporan media yang menyebut Donald Trump masih bersedia menerima kepemimpinan Burnham meskipun terdapat sejumlah perbedaan pandangan politik.
Dalam wawancara tersebut, Burnham mengatakan dirinya tidak dapat memastikan akan selalu sepakat dengan Trump. Menurutnya, seorang pemimpin negara harus mampu menyampaikan pendapat yang diyakini benar bagi kepentingan rakyatnya, meskipun berbeda dengan negara sahabat.
Burnham menjelaskan bahwa hubungan diplomatik yang baik tidak identik dengan kesepakatan mutlak dalam setiap isu. Ia menilai setiap negara memiliki kepentingan sendiri yang wajib dijaga.
Ketika diminta memberikan penilaian mengenai sosok Donald Trump, Burnham tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia hanya mengatakan bahwa dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat sehingga setiap pemerintah harus mampu menyesuaikan kebijakannya dengan kondisi yang berkembang.
Menurut Burnham, prinsip utama seorang perdana menteri adalah menjaga kepentingan nasional. Oleh karena itu, ia tidak akan ragu menyampaikan kritik apabila kebijakan negara lain dinilai berdampak negatif terhadap Inggris.
Pernyataan tersebut dianggap mencerminkan gaya kepemimpinan Burnham yang lebih independen dalam menjalankan hubungan luar negeri. Ia ingin memastikan Inggris tetap memiliki posisi yang kuat dalam setiap kerja sama internasional.
Komentar Burnham juga menjadi respons terhadap laporan Daily Mail yang mengutip sumber dekat Gedung Putih. Sumber tersebut menyebut Trump akan “mentoleransi” Burnham selama masa pemerintahannya.
Alih-alih menanggapi secara personal, Burnham memilih mengalihkan fokus kepada tanggung jawab sebagai kepala pemerintahan. Ia menegaskan bahwa seluruh kebijakan akan didasarkan pada kebutuhan nasional Inggris.
Burnham resmi mulai menjabat sebagai Perdana Menteri setelah menggantikan Keir Starmer melalui proses serah terima jabatan pada Senin. Pemerintahannya diharapkan membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi, pelayanan publik, dan hubungan internasional.
Sebelumnya, Burnham telah menyampaikan rencana melakukan reformasi besar terhadap sistem politik dan ekonomi Inggris. Langkah tersebut bahkan disebut sebagai perubahan terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.
Rencana itu memicu berbagai tanggapan politik, termasuk dari pemimpin Reform UK Nigel Farage yang meminta agar pemilu baru segera diselenggarakan.
Meski menghadapi tantangan politik domestik, Burnham menegaskan bahwa pemerintahannya akan tetap fokus membangun Inggris yang lebih kuat sekaligus memperkuat posisi negara dalam percaturan global.
Hubungan dengan Amerika Serikat tetap dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam kebijakan luar negeri Inggris. Namun Burnham memastikan kerja sama tersebut akan dijalankan berdasarkan prinsip saling menghormati serta kesetaraan.
Menurutnya, kerja sama internasional akan lebih sehat apabila setiap negara berani menyampaikan pandangan secara terbuka tanpa mengorbankan kepentingan rakyatnya sendiri.
Pendekatan tersebut diyakini akan menjadi ciri khas diplomasi Inggris di bawah kepemimpinan Burnham. Ia ingin membangun hubungan yang kuat dengan seluruh mitra internasional tanpa kehilangan kemandirian dalam mengambil keputusan strategis.***