Indonesiaku.co – Situasi keamanan di Arab Saudi menjadi perhatian sejumlah negara Asia menjelang berbagai agenda olahraga internasional. Setelah serangan rudal oleh kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh dilaporkan memunculkan kekhawatiran, Jepang dan Korea Selatan mengambil langkah yang berkaitan dengan rencana kegiatan olahraga mereka di kawasan tersebut.
Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengumumkan keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFAe yang dijadwalkan berlangsung di Arab Saudi pada akhir Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil setelah pihak asosiasi mengevaluasi informasi yang tersedia mengenai situasi terkini dan keamanan negara tuan rumah.
JFA menyatakan bahwa penilaian dilakukan secara menyeluruh sebelum keputusan diambil. Meski demikian, keputusan untuk tidak mengikuti Piala Dunia FIFAe tersebut tidak berarti Jepang otomatis menarik diri dari Piala Asia 2027. Kedua kompetisi itu merupakan agenda yang berbeda.
Di sisi lain, tim nasional sepak bola Korea Selatan dilaporkan sedang menyiapkan rencana alternatif untuk pertandingan persahabatan yang semula dijadwalkan berlangsung di Timur Tengah pada November 2026. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi keamanan kawasan.
Pemerintah Korea Selatan juga mengambil tindakan terkait perjalanan warganya ke Arab Saudi. Pada Minggu (11/10), pemerintah menaikkan peringatan perjalanan untuk seluruh wilayah negara tersebut ke Level 3, yaitu rekomendasi untuk meninggalkan wilayah terkait.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan meminta warga negaranya yang saat ini berada di Arab Saudi untuk meninggalkan negara tersebut, kecuali apabila terdapat alasan mendesak untuk tetap tinggal. Warga yang berencana melakukan perjalanan juga diminta membatalkan atau menunda keberangkatan.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Asia 2027. Turnamen sepak bola utama tingkat Asia tersebut akan berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027.
Penyelenggaraan kompetisi direncanakan menggunakan delapan stadion yang tersebar di tiga kota, yakni Riyadh, Jeddah, dan Al-Khobar. Dengan melibatkan berbagai tim nasional, pemain, staf, dan pendukung dari banyak negara, faktor keamanan menjadi bagian penting dari persiapan turnamen.
Presiden FIFPRO Asia-Oseania, Beau Bush, sebelumnya menyampaikan keprihatinan organisasinya terhadap dampak konflik di kawasan. Ia juga mengakui adanya kekhawatiran di kalangan pemain mengenai turnamen mendatang.
Bush menekankan bahwa keselamatan pemain, penggemar, dan staf harus menjadi prioritas utama. Ia menilai penilaian risiko perlu dilakukan sebelum tim nasional dipanggil dan dievaluasi kembali menjelang kompetisi karena situasi keamanan dapat berubah.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) belum memberikan komentar mengenai kekhawatiran berbagai pihak terkait penyelenggaraan Piala Asia 2027. AFC diketahui telah menggandeng sejumlah sponsor berbasis di Arab Saudi, termasuk Aramco, Alrajhi Bank, dan NEOM.
Hingga informasi yang tersedia, belum ada pengumuman bahwa Piala Asia 2027 akan dipindahkan atau mengalami perubahan jadwal. Keputusan Jepang terkait FIFAe dan rencana alternatif Korea Selatan untuk pertandingan persahabatan menjadi perkembangan yang berbeda dari keputusan mengenai turnamen tersebut.
Situasi ini memperlihatkan bahwa keamanan dapat memengaruhi perencanaan olahraga internasional, termasuk keikutsertaan peserta dan pengaturan pertandingan. Menjelang Piala Asia 2027, pemantauan kondisi regional serta evaluasi risiko akan menjadi hal penting bagi penyelenggara dan negara peserta.***