Indonesiaku.co – Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai kedalaman skuad menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat Timnas Indonesia untuk bersaing menuju Piala Dunia 2030.
Dalam memetakan kebutuhan pemain, ia menjadikan Jepang sebagai salah satu pembanding karena negara tersebut memiliki banyak pemain yang berkarier di kompetisi Eropa.
Erick menyebut Jepang mempunyai sekitar 100 pemain yang bermain di berbagai liga Eropa. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 pemain disebut merumput di Liga Inggris.
Banyaknya pemain yang mendapatkan pengalaman di kompetisi luar negeri membuat Jepang mempunyai pilihan pemain yang lebih luas untuk memperkuat tim nasional.
Menurut Erick, kedalaman skuad yang matang membantu Jepang menghadapi situasi ketika pemain mengalami cedera. Tim tidak harus selalu bergantung pada satu atau dua nama karena tersedia alternatif dengan kualitas yang dapat diandalkan.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Indonesia. PSSI ingin membangun skuad yang memiliki kualitas lebih merata sehingga perubahan susunan pemain tidak langsung menurunkan kekuatan tim. Erick menegaskan bahwa Indonesia idealnya memiliki tiga kelompok pemain, masing-masing terdiri atas sebelas orang. Setidaknya, dua kelompok dengan kualitas relatif setara harus tersedia.
Hasil pemetaan awal PSSI menunjukkan bahwa tidak semua posisi membutuhkan penanganan dengan tingkat urgensi yang sama. Posisi penjaga gawang dinilai sudah cukup kuat dengan dua opsi utama. Bek tengah juga dianggap cukup, meskipun masih terbuka kemungkinan penambahan satu pemain. Sementara itu, bek kiri mempunyai pilihan pemain yang melimpah.
Sebaliknya, sektor bek kanan menjadi salah satu posisi yang perlu mendapat perhatian karena stok pemain terbatas akibat badai cedera. PSSI juga menilai lini tengah masih membutuhkan tambahan dua pemain setelah mengidentifikasi sekitar tiga pemain yang konsisten. Kebutuhan pada posisi penyerang dan sayap turut menjadi bagian dari evaluasi.
Erick menekankan bahwa upaya memperkuat skuad harus mempertimbangkan pemain yang tampil di luar negeri maupun di kompetisi domestik. Keduanya dinilai tetap memiliki peran dalam membentuk tim nasional yang kompetitif. Karena itu, pemetaan pemain akan terus dilakukan bersama pelatih kepala Timnas Indonesia John Herdman dan Badan Tim Nasional.
Pengalaman Jepang menjadi pembanding, tetapi kebutuhan Indonesia tetap harus disesuaikan dengan kondisi pemain yang tersedia. PSSI perlu menilai performa, konsistensi, kebugaran, serta kecocokan pemain dengan kebutuhan tim. Dengan cara tersebut, pencarian pemain tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga kualitas dan kesiapan untuk bersaing.
Persiapan ini dilakukan jauh sebelum rangkaian Kualifikasi Piala Dunia 2030 Zona Asia dimulai. Indonesia, yang berada di peringkat ke-21 Asia, berpeluang langsung masuk putaran kedua tanpa melewati putaran pertama. Pengundian kedua putaran dijadwalkan pada 15 Desember 2026.
Adapun pertandingan putaran kedua direncanakan berlangsung dari September 2027 hingga Maret 2028. Rentang waktu tersebut menjadi kesempatan bagi PSSI untuk terus mengevaluasi pemain dan memperkuat berbagai sektor.
Dengan kedalaman skuad yang lebih baik, Indonesia diharapkan mampu menghadapi perubahan komposisi tim tanpa kehilangan daya saing. Namun, pencapaian itu membutuhkan proses panjang, pemantauan berkelanjutan, dan kerja sama antara federasi, pelatih, serta para pemain.***