Indonesiaku.co – Metropolitan Museum of Art merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang memiliki sejarah panjang di New York.
Museum yang sering disebut The Met ini telah berdiri sejak 1870 dan berkembang menjadi salah satu pusat seni dengan koleksi dari berbagai periode sejarah.
Gagasan mendirikan The Met muncul dari sekelompok warga Amerika yang ingin menghadirkan sebuah institusi seni sekaligus pendidikan bagi masyarakat. Museum tersebut kemudian resmi didirikan pada 13 April 1870.
Pada tahun yang sama, The Met memperoleh objek pertama untuk koleksinya berupa sebuah sarkofagus Romawi. Koleksi museum kemudian berkembang dengan masuknya berbagai karya seni dari Eropa dan wilayah lainnya.
Dalam perjalanan awalnya, The Met tidak langsung berada di lokasi yang sekarang. Museum pertama kali dibuka di Dodworth Building yang berada di 681 Fifth Avenue. Setelah itu, museum sempat menempati Douglas Mansion di West 14th Street.
Pada 1880, The Met akhirnya dibuka di lokasi permanennya di Fifth Avenue dan 82nd Street, kawasan yang berhubungan langsung dengan Central Park. Bangunan awalnya dirancang oleh Calvert Vaux dan Jacob Wrey Mould.
Seiring pertumbuhan koleksi, bangunan museum juga mengalami berbagai perubahan. Perluasan dilakukan dari waktu ke waktu sehingga kompleks The Met berkembang jauh lebih besar dibandingkan bangunan pertamanya.
Bagian depan museum di Fifth Avenue menjadi salah satu elemen arsitektur yang ikonik. Fasad dan Great Hall yang dirancang oleh Richard Morris Hunt dibuka untuk publik pada 1902. Bangunan museum kemudian terus mengalami perkembangan dan penambahan berbagai sayap.
Perjalanan panjang tersebut membuat The Met memiliki koleksi yang sangat beragam. Saat ini, museum menyimpan lebih dari 1,5 juta objek yang mencakup lebih dari 5.000 tahun sejarah manusia.
Pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi, mulai dari seni Mesir, Yunani dan Romawi, Asia, Eropa, Amerika, Afrika, hingga seni Islam. Museum juga mempunyai koleksi fotografi, alat musik, seni modern dan kontemporer, serta berbagai benda dekoratif.
Salah satu koleksi yang menjadi perhatian adalah Temple of Dendur. Museum juga menampilkan karya terkenal seperti Self-Portrait with a Straw Hat karya Vincent van Gogh, Washington Crossing the Delaware karya Emanuel Leutze, The Little Fourteen-Year-Old Dancer karya Edgar Degas, serta Autumn Rhythm karya Jackson Pollock.
Keberadaan museum di kawasan Central Park menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat memasukkan kunjungan ke The Met dalam agenda perjalanan ketika berada di Manhattan.
Selain untuk wisata, museum juga berperan dalam penelitian. The Met menyediakan berbagai sumber bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang ingin mempelajari karya seni serta sejarahnya.
Dengan usia lebih dari satu abad, The Met bukan sekadar bangunan yang menyimpan benda-benda bersejarah. Museum tersebut menjadi tempat bertemunya berbagai kebudayaan dan periode sejarah dalam satu ruang.
Perjalanan dari sebuah museum yang baru didirikan pada 1870 hingga menjadi institusi seni dengan jutaan objek menunjukkan bagaimana koleksi dan fungsi The Met terus berkembang. Bagi wisatawan, sejarah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kunjungan ke Metropolitan Museum of Art dapat memberikan pengalaman yang berbeda selama berada di New York.***