Indonesiaku.co – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap posisi militer Amerika Serikat di Yordania.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas militer Iran di Pulau Larak, yang berada di kawasan Selat Hormuz.
Informasi mengenai serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania pertama kali dilaporkan Fox News berdasarkan keterangan sumber dari pihak Amerika. Laporan tersebut menyebutkan bahwa serangan Iran menyasar pasukan Amerika Serikat yang berada di Yordania.
Meski terjadi serangan, laporan awal menyebutkan belum terdapat dampak signifikan. Hampir seluruh rudal yang datang dilaporkan berhasil dicegat. Reuters juga mengutip laporan Fox News bahwa serangan tersebut sedang berlangsung ketika informasi pertama disampaikan.
Serangan tersebut tidak berdiri sendiri. Beberapa jam sebelumnya, pasukan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak. Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan serangan tersebut dilakukan terhadap peluncur yang digunakan oleh IRGC.
Menurut keterangan Amerika Serikat, pasukan IRGC di Pulau Larak sedang mempersiapkan roket yang dapat digunakan untuk membawa ranjau laut ke Selat Hormuz. Karena alasan tersebut, Washington menyatakan serangan dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia. Kawasan tersebut menjadi jalur penting bagi kapal-kapal pengangkut minyak dan komoditas energi. Oleh sebab itu, setiap peningkatan aktivitas militer di sekitar selat dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran dan stabilitas pasar energi.
Iran kemudian memberikan respons melalui serangan terhadap posisi militer Amerika Serikat di Yordania. IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan Amerika Serikat di Larak. Laporan Reuters menyebut dua pangkalan Amerika Serikat di Yordania menjadi sasaran, yakni King Hussein dan Al Azraq.
Pertahanan udara Yordania dilaporkan berupaya mencegat rudal-rudal yang masuk. Dengan adanya kemampuan pencegatan tersebut, sebagian besar ancaman berhasil ditangani sebelum menimbulkan kerusakan besar.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa penghentian permusuhan antara Washington dan Teheran sebelumnya belum mampu menghasilkan penyelesaian konflik yang berkelanjutan.
Amerika Serikat dan Israel diketahui mulai menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian melancarkan serangan balasan. Konflik tersebut berlangsung dalam beberapa tahap dan turut melibatkan sejumlah wilayah strategis di kawasan Asia Barat.
Pada pertengahan Juni, Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah kesepakatan tersebut. Kedua pihak kemudian kembali melakukan serangkaian tindakan militer.
Serangan terbaru menjadi perhatian karena memperlihatkan pola saling membalas antara kedua negara. Amerika Serikat menyerang fasilitas militer Iran di Larak, kemudian Iran menyerang posisi Amerika Serikat di Yordania.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik berkembang menjadi lebih luas. Negara-negara yang berada di sekitar kawasan konflik juga menghadapi risiko terdampak apabila serangan berlanjut.
Hingga kini, perkembangan situasi masih menjadi perhatian internasional. Upaya untuk mengendalikan eskalasi menjadi penting agar konflik tidak meluas ke wilayah lain dan mengancam keamanan kawasan maupun jalur perdagangan internasional.***