Indonesiaku.co – Operasi penyelamatan korban banjir bandang di Nepal terus dilakukan setelah bencana besar menerjang wilayah utara negara tersebut pada Rabu.
Pemerintah Nepal mengerahkan ribuan personel militer untuk membantu evakuasi korban, sementara helikopter digunakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi akibat rusaknya akses darat.
Sekitar 4.000 personel militer dilibatkan dalam operasi penyelamatan. Pasukan tersebut berasal dari unsur Angkatan Darat Nepal dan bekerja bersama kepolisian serta pasukan bersenjata dalam pencarian dan evakuasi korban.
Banjir bandang menerjang wilayah Rasuwa dan sejumlah distrik di sekitarnya setelah gelombang besar air dan material masuk ke Sungai Bhotekoshi dari sisi Tibet. Arus kemudian bergerak menuju Sungai Trishuli dan membawa air serta material dalam jumlah besar ke wilayah hilir.
Kekuatan arus membuat sejumlah permukiman, jalan, jembatan dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Beberapa wilayah menjadi sulit dijangkau karena akses darat terputus. Kondisi tersebut membuat penggunaan helikopter menjadi sangat penting dalam operasi penyelamatan.
Menurut laporan yang mengutip juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet, sebanyak 336 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter dari kawasan yang terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, 45 orang merupakan wisatawan asing.
Evakuasi dilakukan untuk menyelamatkan warga dan wisatawan yang terjebak di daerah terdampak. Kondisi geografis Nepal yang didominasi wilayah pegunungan membuat operasi penyelamatan menghadapi tantangan tersendiri, terlebih ketika jalan dan jembatan rusak akibat diterjang banjir.
Jumlah korban tewas sendiri terus bertambah. Kepolisian Nepal melaporkan angka kematian telah mencapai 475 orang pada Jumat. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang sehingga operasi pencarian terus diperluas ke wilayah hilir.
Tim penyelamat tidak hanya bekerja di lokasi awal bencana. Karena arus banjir bergerak melalui Bhotekoshi dan Trishuli, pencarian juga dilakukan di sepanjang aliran sungai. Material yang terbawa air dapat bergerak jauh dari lokasi awal kejadian sehingga memperluas wilayah pencarian.
Situasi semakin kompleks karena sejumlah warga dan wisatawan belum dapat dihubungi. Nepal Tourism Board sebelumnya menyatakan ratusan wisatawan dan pelancong masih belum diketahui keberadaannya di wilayah terdampak. Proses verifikasi dilakukan dengan melibatkan agen perjalanan, perusahaan trekking, pemandu, otoritas lokal serta lembaga keamanan.
Selain mencari korban, pemerintah juga berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu persoalan utama karena menghambat distribusi bantuan dan pergerakan tim penyelamat.
Banjir terjadi dengan sangat cepat. Laporan teknis Nepal menyebut informasi mengenai gelombang banjir besar yang masuk dari sisi Tibet diterima sekitar pukul 09.05. Peringatan kemudian disebarkan kepada masyarakat di sejumlah distrik yang berada di sepanjang koridor sungai. Lebih dari 600 ribu pesan peringatan dikirimkan kepada masyarakat yang berada di wilayah berisiko.
Meski peringatan telah diberikan, cepatnya pergerakan air membuat banyak orang tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri. Gelombang banjir kemudian bergerak ke berbagai wilayah di bagian hilir.
Pemerintah Nepal masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah korban secara akurat. Angka tersebut kemungkinan berubah karena pencarian terhadap orang hilang masih berlangsung.
Dengan ribuan personel yang dikerahkan dan dukungan helikopter, pemerintah Nepal berupaya mempercepat pencarian serta evakuasi. Fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang masih hilang, mengevakuasi warga dari kawasan berbahaya dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi.
Bencana tersebut menjadi ujian besar bagi kemampuan tanggap darurat Nepal. Kondisi medan pegunungan, kerusakan infrastruktur dan luasnya wilayah terdampak membuat operasi penyelamatan membutuhkan koordinasi yang sangat besar.***